SELAYANG BAYANG

SELAMAT DATANG

adalah ruang di mana ada kehidupan yang saling menghidupi. Mungkin ada puisi, mungkin ada cerita, mungkin ada renungan atau oleh-oleh kecil atas sebuah perjalanan, mungkin ada imaji, bahkan mungkin sekedar omelan belaka. Suka maupun tak, apabila berkenan, tinggalkan jejak kata.
Apapun, selamat menikmati. Semoga menjadi inspirasi.
Terima kasih telah berkunjung.

Selasa, 28 Desember 2010

CELOTEH

MANUSIA DAN PERUBAHAN ALAM

( sebuah renungan akhir tahun 2010 )

Dalam beberapa hari ke depan, menurut hitungan masehi, bumi akan mengulangi masa perputarannya mengelilingi matahari pada titik yang sama. Pada titik yang sama ? Tentu saja ini sebuah pernyataan yang perlu diperdebatkan. Karena bila mungkin bisa kita buat sebuah koordinat di alam semesta, besar kemungkinan pada masa yang kita anggap sebagai titik hitungan awal tahun itu, bumi tidaklah berdiri di koordinat yang tepat sama. Namun, untuk kemudahan, kesederhanaan perhitungan maka anggaplah hal itu adalah sama. Padahal di luar sana berjuta hal dapat dimungkinkan. Manusia dengan daya upayanya mencoba menyederhanakan segala sesuatu yang sesungguhnya teramat rumit.

Begitu juga akhir dan awal sebuah ( hitungan ) tahun. Setiap saat pula kita memperbaharuinya. Angka 1 menjadi 2, angka 2 menjadi 3 dan seterusnya dan seterusnya. Segalanya mesti berubah. Perubahan-perubahan itu adalah demi pemahaman-pemahanan baru akan kenyataan sehari-hari yang otomatis juga terus berubah.

Manusia pada awalnya memaknai perubahan menurut perubahan alam itu sendiri. Pergantian siang dan malam, pergantian musim, pergantian bentang alam dan sebagainya. Manusia menemukan bahasa, menemukan api, menciptakan alat-alat, menciptakan sistem dalam rangka menyiasati perubahan yang datangnya dari luar dirinya. Sambil terus mempelajari alam dan mengembangkan pengetahuannya.

Hingga pada akhirnya manusia menjadi agen perubahan itu sendiri. Ambil contoh ketika revolusi industri dimulai dengan ditemukannya mesin uap. Saat di mana udara yang tadinya masih asli dan murni menjadi teracuni oleh temuan-temuan manusia. Maka struktur alampun berubah.

Ketika manusia telah menjadi agen perubahan maka mau tak mau perubahanpun berjalan amat pesat. Karena dalam diri manusia terdapat sebuah ambisi, maka ambisilah yang menjadi lokomotif yang amat kuat dayanya untuk menarik gerbong-gerbong daya pikir, daya kreasi dan daya hidup. Ambisi yang pada awalnya adalah hanyalah daya untuk mempertahankan hidup dalam mengatasi alam yang tak banyak diketahui menjadi daya untuk menaklukkan alam di bawah kaki.

Dalam dua dasa warsa terakhir ini sering sudah kita mendengar kekhawatiran-kekhawatiran manusia akan perubahan alam yang berbeda dari tahun ke tahun. Perubahan-perubahan yang disebabkan oleh percepatan-percepatan yang dilakukan oleh manusia itu sendiri. Mencairnya es di kutub. Bertambah luasnya gurun-gurun di Afrika. Musim dingin yang lebih dingin, demikian juga dengan musim panas yang lebih panas di Eropa dan Amerika. Hujan yang dengan intensitas yang tinggi di tropis dan subtropis. Kenaikan muka air laut. Manusia telah lupa bahwa alam adalah hidup. Alam juga mempunyai daya yang amat dahsyat untuk menyeimbangkan dirinya. Manusia sudah lupa bahwa dirinya adalah bagian dari alam itu sendiri.

Telah menjadi sebuah kekhawatiran yang meluas bilamana manusia sedang memasuki sebuah episode peradaban yang gelap. Peradaban di mana manusia harus berjuang lebih berat dari sebelumnya dalam menghadapi tantangan alam yang sedang menggeliat kuat.

Merefleksikan pada sebuah perjalanan bumi mengelilingi matahari, matahari mengelilingi galaksi, betapa kecilnya manusia, namun betapa besarnya ambisinya menaklukkan alam. Hitungan-hitungan, perkiraan-perkiraan yang diciptakan manusia sesungguhnya adalah untuk menyederhanakan sesuatu yang sesungguhnya rumit dan masih meraba-raba. Sementara yang diraba itupun terus berubah. Dengan atau tanpa campur tangan manusia. Masihkah manusia akan meneruskan ambisi-ambisi penaklukannya ?

Selamat Tahun Baru 2011.

Bogor 1210

Tidak ada komentar:

Posting Komentar