SELAYANG BAYANG

SELAMAT DATANG

adalah ruang di mana ada kehidupan yang saling menghidupi. Mungkin ada puisi, mungkin ada cerita, mungkin ada renungan atau oleh-oleh kecil atas sebuah perjalanan, mungkin ada imaji, bahkan mungkin sekedar omelan belaka. Suka maupun tak, apabila berkenan, tinggalkan jejak kata.
Apapun, selamat menikmati. Semoga menjadi inspirasi.
Terima kasih telah berkunjung.

Minggu, 28 Desember 2008

CERPEN

HUJAN AKHIR TAHUN

Tak sepatah kata kutemukan meski sudah hampir limabelas menit aku menatap layar yang berpendar di depanku. Tadinya kupikir aku akan dapat menemukan puisi di tengah hujan akhir tahun yang mengguyur di depan jendela. Namun deranya yang terlalu deras justru mengganggu gelombang otakku. Aku tak dapat menangkap apa-apa dari guyurnya. Harusnya kuhentikan saja. Meninggalkan laptop dalam keadaan tetap menyala. Melakukan hal-hal lain seperti, menonton televisi atau menonton hujan saja. Tapi kenapa aku tetap duduk terpaku. Bahkan seolah suara hujan di luar sana datang terus dengan hardikan : TULIS PUISI, TULIS CERITA, TULIS APA SAJA

Selain layar yang terus berpendar, di depanku ada sebuah jendela bertirai kuning gading yang sedang terbuka. Tirainya menari-nari ditiup angin. Jendela itu menghadap sebuah taman yang kubikin dengan tanganku sendiri. Taman di depan rumahku yang bergaya tropis. Tapi temanku pernah berkata :

Mindahin hutan nih...ke depan kamarmu.

Di seberang tamanku ada sebuah jalan kompleks perumahan yang sepi. Kini aku sedang memandang ke jalan itu. Mataku terpaku di sana tapi tidak pikiranku. Pada air hujan yang terus menerus menerpa aspal. Bunyinya kian berdentam di kepalaku.

Pikiranku perlahan menyusun derap air membuat sebentuk manusia. Sedikit demi sedikit menjadi sesosok gadis kecil. Rambut diikat ekor kuda. Bergaun abu senada dengan warna aspal. Berkulit seputih kelopak Spatyphylum. Wajahnya, menyungging senyuman dengan tatap yang ramah. Namun ada setitik duka di pupilnya. Sedang bertanya pada diriku :

Boleh aku singgah di kamarmu. Aku kedinginan di luar sini. Sebentar lagi hujan menghanyutkanku ke kali. Boleh ?




Bogor, 1208

Kamis, 18 Desember 2008

PUISI

BUKAN SEORANG SAWYASACIN
; Si

Dia duduk termenung di rindang pohon hayat. Berlindung dari matahari yang kian meninggi. Nyanyi Sang Purusotama berdengung di kedua telinga. Sesekali dia bersenandung kata yang diingatnya.

Tiba-tiba seekor burung berbulu seputih salju datang dan hinggap di salah satu rantingnya. Seolah membaca jiwanya, burung putih itu pun berlagu :

O, jiwa peragu, jiwa peragu,
Kau senandungkan nyanyi Sang Putra Wisnu
Tapi kenapa jiwamu bimbang, O, peragu
Tak kau lihatkah Sang Dananjaya
Teguh jiwanya dalam dharma
Bukankah kau juga pemilik panah api
Seperti punya Putra Kunti

Dia menjawab lagu sang burung:

O, burung putih, burung putih
Jiwaku memang peragu
Tapi juga pemilik panah api
Bolehkah aku bertanya
Dharmaku ada di mana
Telah kulesatkan berkali-kali
Panah api pada semua arah
Agar semua orang terbakar cinta
Damai milik Sang Hyang nan Suci

Burung putih salju kembali berlagu :

O, jiwa peragu
Sewajarnyalah para satria berpanah api
Merentangkan busurnya pada semua arah
Demi Sang Pemilik Cinta Sejati
Terbakar, terbakarlah Mayapada
Karenanya dirimu juga membara
Api cinta Empunya Hidup
Maka hiduplah jangan meragu
Seperti Arjuna Kuntiputra

Setelah berlagu dengan suara yang merdu, sang burung kembali terbang tinggi. Menghilang pada langit biru tak berawan. Meninggalkan dia yang masih terpekur di bawah pohon hayat. Dalam pikiran bergolak sang peragu, dia berkata dalam hati. Pada dirinya sendiri :

Duh, aku hanya seorang papa, berpanah api namun bukanlah sawyasacin. Tapi selalu kudengarkan nyanyi Sang Janardana. Duh, Gusti aku mohon ampun.




Bogor, 1208

Catatan :
Sawyasacin = Arjuna ( pemanah ulung )
Dananjaya = Arjuna ( penakluk harta kekayaan )
Putra Kunti = Arjuna ( anak Kunti )
Kuntiputra = Arjuna ( anak Kunti )
Purusotama = Kresna ( Jiwa yang Agung )
Putra Wisnu = Kresna ( anak Dewa Wisnu )
Janardana = Kresna ( pendorong pembaharuan )

Semua nama-nama di atas dikutip dari kitab BHAGAVADGITA, Nyoman S.Pendit.

Rabu, 17 Desember 2008

PUISI

SUNGAI KECIL DI DEPAN RUMAHMU

Pada sungai kecil yang ada di depan rumahmu
Ku pernah bertanya
Sampai manakah airnya bermuara
Tapi dia diam saja
Bahkan beberapa kali menenggelamkan
Jembatan yang pernah kususuri
Kupikir aku tak kan lagi bertanya
Pada sungai kecil yang ada di depan rumahmu


Bogor 1208

PUISI

YANG TERTUNDA

Dulu, kupikir akan menjumpaimu
Saat butiran awan ada di kaki
Arjuno, Welirang, Penanggungan
Ada di satu titik pupil mataku
Tapi ternyata tak
Kujumpa hanya kawanmu
Dengan senyum yang mirip
Dirimu


Bogor 1208

PUISI

JEJAK DETAK

Detak suara keretakah yang membawamu padaku
Ah, Tak. Itu suara degub jantungku bertemu mu
Ingatan, loncatan listrik pada pantograf
Kata-kata menghambur tak keruan
Menyetrum udara yang sedang basah
Bisu

Masih kubayangkan kau memandang keluar
Sore yang berlari dikejar malam
Lalu seorang tukang koran menyapa kita
Ah, dia masih di sana
Dengan pipi tembem dan kumis kecil melintang
(masih ingatkah)
Dia memandangku
Matanya bertanya tentangmu

Harusnya kujawab ; telah pergi
Bersama burung-burung yang selalu migrasi
Tapi tukang koran itu lebih dulu berlalu
Tanpa menunggu jawabanku

Dan kini kereta terus berjalan
Melewati lebih dari stasiun yang pernah kita hitung
Dan entah berapa lagi pemberhentian

Tahukah kau
Tak ada jejak kecuali rel yang memanjang
Dan terus memanjang, tak pernah kembali
Kini aku sibuk mendengar detak jantungku
Sendiri



Bogor, 1208

Senin, 15 Desember 2008

PUISI

TEROPONG

Apakah sudah menjadi galibnya dunia, diriku tak kan pernah puas. Tak hendak berdiam di satu pemberhentian. Selalu bernafsu membelah diri. Menceracau dengan liur yang terus-menerus meracuni udara. Langit ungu tua. Iblis, malaikat, iblis, malaikat, tuyul, genderuwo, jibril, malik, tanpa pernah mendapat kesempatan menjadi manusia, manusia, manusia, manusia, manusia, manusia, manusia, manusia, manusia.


Bogor 1208

PUISI

PELAWAK

Sekali saja kau berkata
Ombak kan menghampiri
Menyampaikan lumba-lumba
Dan kita kehilangan dermaga


Bogor 1208

PUISI

DI SEBUAH PESTA

Setiap kali ku datang
Kau selalu ada
Di sana berbaju merah
Kadang ungu
Adakah nama kita
Selalu tertera pada
Undangan yang sama
Padahal temanku
Bukan selalu temanmu
Tapi baiklah
Mungkin kita harus berkenalan
Namaku “kosong”
Dan kau “isi”
Ah, ilusi
Adakah kita berlawanan
Bukan berkawan
Ok, kita berteman sekarang
Yang saling mengisi
Ah tak, kau yang selalu
Mengisi
Dan aku
Kosong adanya

Pesta kali ini
Kau tak datang
Padahal kuharapkan
Supaya aku punya teman
Karena ini bukan pesta temanku
Temanmu, entahlah
Sekedar datang saja
Daripada bengong
Dan kali ini kau
Benar-benar tak datang

Pesta selanjutnya
Kau tak datang
Lagi
Pesta kemudian
Kau tak datang
Kembali
Hingga setiap pesta
Terus kudatangi
Dan kini
Ku menjadi dirimu



Bogor 1208

PUISI

JARING GELEMBUNG

Jaring membentang
Jalin menjalin simpul
Simpul kuatkan kait
Kait siap menjaring
Jaring gelembung

Gelembung mengembang
Dari kecil jadi kian besar
Kosong di dalam
Kuatkan
Dan, melayang

Gelembung tertangkap jaring
Terperangkap waktu
Jalin menjalin



Bogor 1208

Rabu, 10 Desember 2008

CELOTEH

HALO BOGOR

-Setelah membaca Kompas, hal : 27, Rabu, 10 Desember 2008
“Menata Transportasi Bogor “ Kota Sejuta Angkot””-


Pertengahan 1986, hari beranjak siang, tapi gelap menudungi kota, hujan bak ditumpahkan begitu saja, matahari entah di mana. Aku bersama bapak turun dari kereta rel listrik di sebuah stasiun tua. Bogor. Tertatih-tatih kami berjalan sambil membawa barang-barang di atas lantai stasiun yang basah. Sesampai di luar bapak mencarter sebuah bemo. Kami menuju Darmaga. Nama sebuah wilayah yang aku tak tahu seperti apa. Hari itu hari pertamaku menginjak Bogor dengan sambutan yang sangat sesuai dengan julukannya “Kota Hujan”.

Sepanjang perjalanan ke Darmaga, hujan terus mengurung. Bersaingan dengan cahaya dan suara petir menyambar-nyambar. Ke depan, di kota inilah ternyata aku akan menghabiskan banyak waktuku. Dan sudah ku catatkan, kota ini adalah kota keduaku yang kucintai setelah kota masa kecilku, Surabaya.

Bogor di tahun-tahun itu bak kota sepi yang berlindung di ketiak sebuah gunung. Gunung Salak. Di bawah lebat dan rindangnya tajuk-tajuk pohon besar. Kota yang selalu basah oleh desir air setiap hari. Atau hujan yang sangat lebat.

Kuingat jalan Merdeka yang lengang ketika aku hendak mencari buku di Toko Buku Naga Mulya. Harus buru-buru pulang sebelum magrib kalau tak mau kehabisan angkot warna kuning dengan pintunya yang di belakang itu. Ya, kala itu, angkutan penumpang ke arah Darmaga atau Ciampea sangat dibatasi waktu.

Kuingat jalan Sukasari, Bondongan jam 7 malam sepi bak kota mati ketika aku dan seorang taman bersepeda motor menyusurinya menuju sebuah warung Bandrek-Susu. Malam-malam basah yang senyap.

Kuingat Kebun Raya dan Istananya seperti seorang raksasa dengan rambut hijau gimbalnya duduk mengangkang. Sore setelah waktu ashar, ribuan kalong peliharaan mengelilingi tuannya.

Sekitar tahun 1993, aku berdiri di jalan Merdeka. Tak ada angkot yang akan membawaku ke terminal Baranangsiang. Rupanya hari itu angkot lenyap akibat sebuah pertikaian. Pertengkaran yang konon pecah akibat persaingan mencari penumpang. Hanya sehari. Setelah itu esoknya pelan-pelan normal kembali.

Tahun 1997 aku kembali ke kota ini dari tiga tahun kepulanganku ke kota masa kecilku. Dan aku mendapati sebuah julukan baru Bogor : Kota Sejuta Angkot. Ah, tak heran. Kota kecil ini sudah penuh sesak dengan angkot.

Lalu, kota terus berkembang hingga kini. Mal dan pusat perbelanjaan terus dibangun. Tak urung, bak gula yang terus dicari semut, tempat-tempat itu menjadi pusat-pusat kemacetan. Belum lagi perilaku angkot yang berhenti sembarangan. Terminal Baranangsiang tak lagi muat oleh kendaraan umum. Semua tumpah ke jalan. Bogor menjadi sebuah terminal besar. Seluruh kota adalah terminal. Ah !

Mau dibawa kemanakah, Bogor ? Sebelum terlanjur dan sulit mengurainya seperti Jakarta, sebagai warga Bogor, sebaiknya kita harus mulai peduli.



Bogor, 1208

Selasa, 09 Desember 2008

CELOTEH

DERITA DI HARI SUCI


Sekali lagi. Situasi yang berulang. Kemarin, layar televisi memberitakan rusuhnya pembagian daging kurban di beberapa kota. Sebelumnya, Idul Fitri menyisakan berita korban tewas atas rusuhnya pembagian Zakat Fitrah. Timbul tanya, ada apakah ? adakah sesuatu yang salah ?

Dulu saya beberapa kali pernah menjadi amil / panitia pembagian zakat serta pembagian daging kurban. Keadaannya jauh dari yang diberitakan di media akhir-akhir ini. Sejauh yang saya alami, semua ( meminjam istilah pada jaman orde baru ) aman dan terkendali. Karena kami selalu mendata berapa muztahiq yang akan menerima. Yang menyesuaikan dengan jumlah zakat atau hewan qurban yang hendak dibagi. Para muztahiq dibagikan kupon yang telah disesuaikan dengan jumlah zakat atau kurban. Atau lebih tertib lagi kalau amil sudah mendata tempat tinggal dan rumah-rumah para muztahiq. Jadi, zakat atau daging kurban diantar langsung kepada yang berhak. Dulu kami juga menghitung sekitar duapuluh persen untuk kelebihan. Berjaga-jaga kalau-kalau ternyata muztahiq tiba-tiba bertambah. Persoalan yang akan timbul harusnya telah dapat dibaca dan dicarikan solusinya

Tapi yang menjadi berita belakangan menjadi sebuah pertanyaan, ada apakah ? Adakah para amil tak dapat memperhitungkan jumlah muztahiq ? Adakah para amil salah dalam mengkoordinir para muztahiq ? Adakah para muztahiq yang tak mau diatur ? Adakah jumlah zakat kini tak cukup bagi kaum miskin ? Atau ini sebuah taktik kotor para provokator untuk mendiskreditkan pihak-pihak terntentu ? Kaum muslim yang selalu punya hajat besar seperti ini, misalnya. Para amil, agar tak tampak profesional, misalnya. Pemerintah yang bertanggung jawab terhadap kemiskinan, misalnya.

Ah, pertanyaan akan terus mengemuka sebelum ada jawaban jelasnya. Dan jawaban apapun bisa terjadi. Ini telah menjadi pekerjaan rumah bersama yang harus segera diselesaikan. Agar tak semakin runyam nantinya.



Bogor, 0812

Kamis, 04 Desember 2008

PUISI

LABA-LABA

Ku
Adalah laba-laba yang bersarang di sudut ruang
Naik, turun, kiri, kanan
Berputar, melingkar
Merajut jala dari benang-benang
Tak peduli gelap dan terang
Memintal nasib menyambung simpul
Menunggu mangsa
Yang ditakdirkan terjebak jaring
Seperti ku



Bogor 1208

PUISI

MEMUSAR


Padamu diam
Langit biru tenang
Laut menyutra gelombang
Bertanyaku setelah ini apa

Hendak ku katakan
Tapi apalah aku
Sebab kau tak kecil
Juga tak besar

Kalau ku katakan
Kau tak di mana
Sebab kau ada
Namun juga tiada

Sudah kuanggap ku dirimu
Dirimu pun ku
Lalu apa




Bogor 1108

PUISI

YANG MENDAKU


Huh. Tak sepadan dengan perkelahian nabimu yang telah membesarkan. Berdirimu berkacak pinggang revolver, menyandang kalashnikov. Bak anak kecil yang suka mencari perhatian.

Huh. Bukankah telah diwasiatkan akan iblis yang berdiri di tengkukmu sendiri. Itulah dirimu. Yang harus kau lawan.

Huh. Buang saja kitab sucimu bila darah masih saja kau ledakkan membanjiri bumi yang telah diamanatkan padamu.

Huh. Ketakutankah yang menelingkungmu dari belakang. Hingga kau membabi buta seolah ada yang kau bela. Tak.
Tak. Dia tak memerlukan pembelaanmu.

Huh. Dia telah berdiri di sana. Sendiri. Menatapmu dalam diam. Seperti ketika malaikat bertanya kenapa diciptakanmu. Hanya dialah yang tahu.

Huh. Jadi buang senjatamu. Kau bukan anak kecil yang suka mencari perhatian.





Bogor 1108

Sabtu, 29 November 2008

CELOTEH

AKU BICARA POLITIK


Ada seorang kawan yang datang ke rumah. Dia adalah kawan di masa SMA. Kawanku itu dulu adalah seorang Ketua OSIS sebelum aku. Jadi dulu dia menyerahterimakan jabatannya kepadaku. Di rumah kami bercengkerama saling bercerita tentang masa lalu.

Tiba pada sebuah cerita seorang teman di Makasar yang menjadi caleg sebuah partai, kawanku menanyakan apakah aku tak juga tertarik pada politik. Mengingat aku dulu senang berorganisasi. Kujawab ; aku tak tertarik pada politik. Yang ternyata, menurutku, hanya sebuah permainan kepentingan yang teramat sempit.

Aku mempunyai pengalaman berorganisasi sejak usia belasan. Di usia 14 tahun aku sudah duduk sebagai sekretaris Karang Taruna di kampungku di Surabaya. Dari sana aku mulai belajar mengelola sebuah organisasi. Di sana aku mulai belajar mengetahui karakter setiap individu. Bagiku ini adalah hal yang menarik. Bagaimana sebuah organisasi dibentuk untuk memberikan manfaat kepada setiap orang / anggota. Mencapai sebuah cita-cita bersama, tapi tak setiap kepala mempunyai pandangan dan cara berpikir yang sama.

Selanjutnya ketika SMA akupun pernah menjadi Ketua OSIS. Kemudian ikut berbagai organisasi bahkan pernah diundang untuk turut dalam dua organisasi kepemudaan besar yang berbeda. Akupun turut hadir dalam beberapakali undangan pertemuannya. Tapi semakin dalam menyelam, semakin aku tak mengerti akan perjalanan sebuah organisasi. Bagiku sangat jelas, berorganisasi adalah menyatukan berbagai kepentingan dan pemikiran ke sebuah wadah untuk mencapai cita-cita bersama. Tapi ternyata, yang kulihat di sana adalah cita-cita dan kepentingan-kepentingan individu lebih menonjol daripada kepentigan dan cita-cita bersama. Aku melihat, bahwa seseorang turut menjadi anggota organisasi atau menjadi pengurusnya demi untuk memperluas pergaulan, mendapatkan kolega yang ujung-ujungnya melancarkan bidang usaha yang ditekuninya. Memperkaya diri sendiri secara materi.

Pun melihat keluar pada sebuah organisasi besar yang bernama Negara Kesatuan Republik Indonesia. Aku jadi bertanya-tanya ; dimanakah cita-cita dan kepentingan bersama ? Yang tampak kini justru cita-cita dan kepentingan individu. Cita-cita dan kepentingan sempit yang ditumpangkan pada cita-cita dan kepentingan bersama, sebuah bangsa. Partai politik, sebuah organisasi yang menopang negara, tak ubahnya sebagai pohon besar di hutan yang mempunyai banyak tanaman parasit yang sibuk menjulurkan dirinya sendiri demi mencapai sinar matahari sambil terus menghisap tanaman indungnya. Sang pohon besar masihlah berakar pada tanah rakyat. Dia terus menerus mencari makan pada tanah yang kian lama kian habis kesuburannya.

Yang menjadi pertanyaaku sekarang ; Apakah kita masih mempunyai cita-cita bersama ? Kalau jawabannya, Ya. Kenapa kita hampir selalu mencari jalan sendiri-sendiri ? Sebuah kapal besar yang menuju arah tertentu sebelum berlayar pasti sudah mempunyai persiapan dan navigasi yang matang. Tapi kenapa setiap penumpangnya mempunyai perahu sekoci sendiri-sendiri. Hingga kapal hampir tak dapat bergerak karena sudah dipenuhi oleh sekoci-sekoci masing-masing penumpang.

Kembali pada seorang kawan yang datang berkunjung. Sebaiknya aku berterimakasih padanya atas pertanyaan yang telah menggelitik pikiranku. Terus terang aku masih tertarik dengan organisasi tapi tidak dengan organisasi politik atau partai politik. Setidaknya untuk saat ini. Entah nanti. Dunia selalu berubah bukan. Begitu juga dengan manusianya.




Bogor 1108

Kamis, 20 November 2008

CELOTEH

SEBUAH CATATAN KECIL TENTANG CINTA

Sekitar duapuluh tahun yang lalu saya mempunyai sebuah buku catatan kecil. Boleh dikatakan itu sebuah diary. Di sana saya membikin puisi, menumpahkan perasaan, penilaian atas kejadian sehari-hari yang saya alami. Di setiap halaman bagian bawah buku catatan kecil itu tercetak kata-kata bijak dari para tokoh-tokoh dunia, filsuf, penyair. Ada satu kalimat yang saya ingat dari tokoh yang saya lupa namanya, yang kira-kira berbunyi : Cinta itu seperti angin. Hanya dirasakan ketika ranting-ranting merundukkan dedaunan. Saat itu saya langsung berpikir usil : Nah, cinta juga seperti kentut dong...., hanya diketahui keberadaannya ketika baunya telah menyebar ruangan.

Di usia-usia remaja seperti itu, dari teman sebaya, sangat sering saya mendengar pertanyaan tentang cinta. Apakah cinta itu ? Dari kata-kata bijak itu sayapun berangkat untuk mencari arti cinta. Awalnya saya cuma berpikir tentang hubungan seorang laki-laki dan perempuan. Di sana cinta mewujudkan dirinya. Namun kemudian saya menangkap juga cinta orang tua kepada anaknya. Teringat ungkapan : Kasih ibu sepanjang jalan.

Pada awal masa kuliah, saya menemukan cinta yang lain. Cinta seorang Muhammad Iqbal, penyair dan filsuf dari Pakistan. Dari sana saya menemukan jalan kepada Jallaludin Rumi. Huh ! Cinta sejati mereka adalah Sang Maha Hidup. Sang Akbar adalah cinta sesungguhnya. Meski baik dan buruk menimpa ciptaanNya. Justru itulah wujud dari cintaNya. Mengajak mahlukNya berpikir tentang sebab akibat. Cinta.

Saya sendiri pada akhirnya tak mencari arti cinta itu tapi menjadi tahu ketika cinta itu datang. Benar seperti tulisan yang saya ingat di buku catatan kecil saya dulu : Cinta itu seperti angin. Hanya dirasa ketika merundukkan ranting dan dedaunan. Di sana baru sadar adanya dedaunan yang terpacak pada ranting. Ranting yang melekat pada batang. Batang menghunjam pada tanah. Tanah adalah bumi. Bumi adalah bagian kecil dari sebuah tata surya. Dari Tata surya-tata surya yang bermilyar-milyar jumlahnya.

Bagi saya arti cinta kini tak penting tapi penting adalah akibatnya.





Bogor 1108

Minggu, 16 November 2008

PUISI

TREMBESI
; ds


Fotomu di sampul majalah itu
Tiba-tiba membuatku
Ingin bercocok tanam
Di punggungmu dengan
Warna-warni bunga-bunga

Ah, tidak
Mungkin trembesi saja
Yang besar pokoknya
Besar tajuknya

Ah, tidak
Mungkin sedang saja
Sebesar lenganmu
Kuning gading

Supaya kau mau merawatnya
Seperti kau mencoba
Merawat hidup yang
Kau peroleh dari kitab-kitab
Para filsuf

Supaya membesar nanti
Batang dan tajuknya
Hidup untuk merindangi




Bogor, 1108

PUISI

MENTENG BERBUAH

Setelah kau tunggu berlama-lama
Akhirnya pohon menteng itu berbuah juga
Padahal tadinya kau gelisah
Kebunmu terganggu gulma, jejamuran
Dan parasit yang hidup pada batangnya

Kau tentu tak berharap durian, rambutan
Karena kau hanya menanam menteng
Siapa mengenalnya
Bahkan cucumu hanya tahu rasa
Apel washington, kiwi australia

Ah, mereka kan tak menanam kenangan
Mencari bajing bertemu menteng
Disantap di bawah pohonnya
Asam manis mengerenyitkan mukamu
Ah, mereka tak punya

Dan kini kau kumpulkan dia
Kau tawarkan pada tetanggamu
Tak ada yang tahu, tak ada yang mau
Ya sudah, sendiri saja
Kini kau duduk di bawah pohonnya
Menyantap menteng asam manis
Buah kenangan




Bogor, 1108

Selasa, 11 November 2008

PUISI

UNDANGAN

Sulur-suluran telah menyampaikan undanganmu padaku. Tapi sayang, almanak di dinding kamar mendahuluimu mengulurkan angka-angka yang sama saat ku kan menjenguk ibu sakit.

Ah, kau tahu itu. Aku tentu mendahulukan dia daripada mu. Bukankah engkau pula yang menyebabkan dia diam tak bergerak. Kudengar dia juga selalu memuja-mujimu.

Atau jangan-jangan setelah mendengar jawabanku ini kau malah turut menjenguk ibu.




Bogor 1108

PUISI

SELANGKAH LAGI

Selangkah lagi ku kan sampai pintumu
Akan kuketukkah lalu kau persilakan aku masuk ke dalam
Atau kuberdiri saja di sana
Memunggungimu
Memperhatikan jejak-jejak kakiku
Yang telah melewati seribu taman
Penuh pepohonan, warna-warni dan aroma bunga

Sebab bila
Selangkah ku masuk ke dalam
Ku kan berubah menjadi dirimu dan
Takkan lagi ku temui seribu taman
Penuh pepohonan, warna-warni dan aroma bunga

Dan ku tak pernah tahu apa yang ada di dalam sana





Bogor 1108

Senin, 03 November 2008

PUISI

BUALAN

Kenapa tak matikan saja televisimu lalu duduk di sini menemaniku merajut sepi menjadi tikar yang mungkin akan kau khayalkan terbang ke negeri seribu satu malam. Seperti yang ada di layar televisimu itu.
Tapi kuyakin kau tak kan pernah percaya bualan ini.

Bogor 1108

CERPEN

KERETA JAM TIGA PAGI

Kutunggu kau di peron ketika stasiun Jember dibalut embun Januari. Di antara sengatan dingin kursi-kursi besi. Di peluk ransel isi udara-udara kosong. Yang siap kuserahkan padamu bila kau tiba.

Kau datang dengan senyummu yang khas. Da Vinci meminjamkannya padamu, kataku dulu, dan sweater merah gelap itu. Kau lambai-lambaikan buat menyenangkanku

Kemana, tanyamu.
Banyuwangi, jawabku.
Terus ke Bali, seperti dulu, tanyamu.
Tak. Hanya sampai Banyuwangi.
Aku ingin ke Bali, pintamu
Aku pasrah

Geram lokomotif yang siap berpacu. Peluit kondektur menyalak

Kereta berangkat jam tiga pagi. Menggiring kabut, menggiring sepi, menggiring kita yang lelah memikul hidup. Diterangi lilin-lilin, kaupun berbaring di sela berkarung-karung cabe, singkong, bawang merah, dan ubi. Dan ibu-ibu yang menertawaimu..

Api lilin terombang-ambing disembunyikan dari angin yang membawa mimpimu bertemu ku.

Sudah. Bawa saja ku pergi, semaumu. Kataku


Depok, 0406

PUISI

FOTO

Foto yang kau kirimkan padaku
Tak seperti bulan bulat telanjang
Yang menantang
Tapi laut yang membentang
Yang selalu membuatku ingin
Bermain pasir ditepian


Depok 0607

Sabtu, 01 November 2008

GEGURITAN

SIRKUS ALUN-ALUN

Nong, Nong, Nong, Nong
Kenong ditabuh, ngundang wong
Wong nggal siji teko nggawe kalangan
Plak, Plung, Plak, Plung
Kendang dikeplak kempul dikemung
Nonton hiburan sirkus alun-alun

Blang. Kenthung. Blang. Kenthung
Ngisor trembesi tengah alun-alun
Srengenge mlethek ora dirasa
Surak mboto rubuh keplok sing nonton
Maju wong nguntal geni ider kalangan
Sembar-sembur geni disembur ngobong akasa

Kagete wong njur surak, Hiyo
Jumpalitan jalma awujud kethek
Ngegirisi menek wit trembesi
Anamung tingkahe lucu
Sing nonton podho ngguyu

Wayahe bocah cilik maju tengah kalangan
Gela gelo jejogedan tangan kethawean
Ngempit jaran sesek koco moto ireng
Nyirig-nyirig lemah awu kabur kanginan
Heya, Heya, Heya.

Cethar-Cheter swara pecut
Bocah cilik mangan beling
Beling piring, beling lampu
Banyu sak ember dikokop
Heya, Heya, Heya

Wong lanangan brewok maju moco jopo montro
Matrane wong tulak jin, setan, pri prayangan.
Siluman geni, siluman kethek, siluman jaran
Sigra sumingkir gantio jalma manungsa
Sing Nonton surak, Hiyo

Wayahe bocah cilik ider kalangan
Ngathungno kupluk wadah recehan.


1008

Sabtu, 25 Oktober 2008

PUISI

MALAIKAT YANG DATANG PAGI-PAGI BERSAMA HUJAN


Kusambut uluran tangannya saat butiran hujan pertama musim ini menyapa genting. Bersama sulur-suluran merambat, memancang pasak-pasak tiang besi dingin hatiku. Tetes itu menggumpal pada bulu-bulu daunnya lalu mengendap lelap

Malaikat yang datang pagi-pagi bersama hujan
Berbisik
Mendesir
Merengkuh
Merayu

Perak gumpal embun larut bersama hujan
Berpeluk
Berdekap
Bersatu

Dalam diri berdialog tanpa pelita. Hanya hati yang menyala, berpendar, mengisi kisi-kisi rongga tubuh. Membawa kehangatan riuh titik-titik hujan di pagi hari

Kabar bening dari Sang Empunya semesta berdenting. Cobaan dan anugrah hanya dari Sang Perkasa. Diam dan larutlah dalam butir-butir hujan membasuh sedih dan
gembira hatimu.

Bagaimana aku memahami bahasanya sedang gelisah selalu saja menyerbu, mendera.

Sedih dan gembira tiada beda karna hanya Dia Sang Empunya.

Malaikat yang datang pagi-pagi bersama hujan menghibur dan bernyanyi di hatiku.



2008



Catatan : Puisi ini dipersiapkan untuk sebuah anthology : Taman-taman Rahasia

PUISI

..MALAM, CINTA

Malam gerah
Peluh luruh pada
Kening, punggung, bulan
Yang sebentar lagi habis

Pintu kamar diketuk
Tuk, tuk, tuk kubuka
Selamat malam, nama saya Cinta
Kedinginan di luar
Boleh saya berteduh di bilikmu

Cinta berbalut malam menggigil
Cinta, kenapa aku


2007



Catatan : Puisi ini dipersiapkan untuk sebuah anthology : Taman-taman Rahasia

PUISI

MADU


Kesesap madumu ketika kujumpa kau di belantara warna warni bunga memesona. Kau diam, lalu tersenyum dan berkata “lagi dan lagi”
Lalu puja dan puji kudendangkan.
“Suaramu parau,” katamu.
Aku diam

Kuterbang berkeliling taman di antara putih awan bergulung-gulung
Kau diam, lalu tersenyum dan berkata “kembalilah lagi untuk maduku”
Aku mengangguk setuju


2005



Catatan : Puisi ini dipersiapkan untuk sebuah anthology : Taman-taman Rahasia

PUISI

BROMO

Simpan kitabmu, jangan hanya tenggelam pada kata-kata, kalimat-kalimat, bunyi-bunyi yang tak kau mengerti. Lari, carilah aku. Yang bersembunyi di balik gelap malam, di atas awan-awan putih kelabu, di pucuk-pucuk pinus, terik matahari, tai-tai kuda, di balik sarung, dingin menyekap.

Ayo lari, kejar aku, berpacu di atas debu.
Lihat, anak-anak kecil tertawa melihatmu.
Terhuyung-huyung di pagi buta


2005



Catatan : Puisi ini dipersiapkan untuk sebuah anthology : Taman-Taman Rahasia

PUISI

RAHASIA

Tersuruk-suruk ku menempuh rimbamu. Berbalut malam, berselimut embun, merayap di tanah gelap. Menjalar pepohonan batang-batang berlumut bergelantung akar.

Berdarah-darah ku menembus belantaramu. Luka tercabik duri sembuh karena getah lalu biru memar terantuk batu.

Kupikir ku telah menyapamu saat hati sepi. Masihkah kau sembunyikan rahasia ketika ku telah lelah.


2007


Catatan : Puisi ini dipersiapkan untuk sebuah anthology : Taman-taman Rahasia.

Senin, 20 Oktober 2008

PUISI

POHON JAMBU

Pohon jambu tetanggaku ditebang
Sekarang ku dapat melihat bulan
Di ujung teras depan
Termangu ku sang perindu
Kekasih tak jua kunjung bertemu

Pohon jambu tetanggaku ditebang
Sekarang ku merasa ada yang hilang
Di cabang terbesar kedua
Sambil menyisir rambutnya yang panjang
Seorang perempuan gemar tertawa

Pohon jambu tetanggaku ditebang
Ku melihat di bulan.
Perempuan menyisir rambutnya



Depok 0804

CERPEN

INSTALASI GAWAT DARURAT


Malam-malam setelah lebaran, Instalasi Gawat Darurat. Sum menangis tersedu. Suamiku, katanya, tergolek tak berdaya. Menahan sakit di pundak dan lengan kanannya

Tak dinyana, Lebaran berbuah petaka. Ketupat, emping melinjo, opor ayam, sambal goreng ati, ampela, petai, sayur buncis nikmat tiada tara

Malam takbir adikku mengirim masakan, ceritanya. Alangkah nikmatnya. Buka puasa, tanpa menunggu esok, masakan disantapnya. Alangkah nikmatnya. Salah satu kebahagiaan orang berpuasa. Sebelum berjumpa Yang Maha Kuasa tentunya.

Beduk bertalu dan perut suaminya pun begitu. Santap saja, tadi hari terakhir puasa. Alangkah nikmatnya.

Malam takbir berlalu, sholat Iedpun ditunaikan. Sepulang dari lapangan santap lagi ketupat, emping melinjo, opor ayam, sambal goreng ati, ampela, petai, sayur buncis nikmat tiada tara.

Tiba saatnya, sore, tubuh suamiku mengelejat. Terkapar di tempat tidur menahan sakit. Tiada tara. Tergopoh-gopoh malamnya kubawa dia ke Instalasi Gawat Darurat.

Bu, suami ibu terkena asam urat. Sementara saya akan memberikan penghilang rasa sakit, kata Bu Dokter. Apa itu, Tanya Sum. Saya akan memasukkan obat lewat anus suami Ibu.

Astaga. Anus suamiku akan dimasuki obat. Oleh Bu Dokter. Obat macam apa.

Malam-malam setelah lebaran, Instalasi Gawat Darurat. Sum menangis tersedu. Suamiku, anusnya dimasuki obat. Oleh Bu Dokter. Aku tak dapat membayangkannya.
Alangkah....


Bogor, 1008

Rabu, 15 Oktober 2008

CELOTEH

LASKAR PELANGI ; MOMENTUM UNTUK SEBUAH CITA-CITA BESAR

Sebuah karya film anak bangsa yang sedang menjadi pembicaraan akhir-akhir ini adalah LASKAR PELANGI. Film yang dibesut oleh Riri Riza berdasarkan sebuah Novel laris karya Andrea “ Ikal “ Hirata. Film itu menceritakan sebuah cita-cita besar dari rakyat kecil Pulau Belitong yang terpinggirkan oleh “pekerjaan besar” sebuah perusahaan tambang di pulau itu. Film dan Novel yang menurut penulisnya sebagian besar adalah kisah nyata.

Pada cerita pada Film dan Novel Laskar Pelangi dikisahkan betapa sebuah komunitas rakyat kecil yang berlindung di bawah atap sebuah sekolah reyot SD MUHAMMADIYAH mencoba bertahan dengan apa yang ada. Sambil terus mengais nafas yang kian lama kian menjepit.

Di sini tampaklah bagi kita betapa daya hidup rakyat kecil yang terpinggirkan begitu besar dan kuat. Meski mereka tampaknya tak bakal hidup dengan kondisi yang ada, terbukti bahwa mereka menggeliat dan berusaha tetap hidup. Yang menjadi pertanyaan sekarang, apakah yang membuat mereka begitu. Jawabannya sebagian ada pada cerita Laskar Pelangi. Jawaban itu adalah ; cita-cita yang besar.

Terbukti, cita-cita besar adalah milik rakyat kecil. Rakyat kecil memandang dunia adalah besar. Sebagian mungkin menganggap dunia besar adalah tak terjangkau. Lalu selalu hidup dalam keterbatasan. Namun tak kurang yang menganggap dunia besar, meski jauh, harus diraih walaupun dengan tangan yang ringkih. Oleh karenanya, rakyat kecil tetap hidup meski hanya dengan cita-citanya.

Sebaliknya, orang besar tak punya cita-cita besar. Karena mereka telah menganggap dunia telah ada di tangan mereka. Dunia telah selesai. Maka mereka lebih sibuk menguras dan terus menguras lalu menghambur-hamburkannya. Padahal, seperti pesan dalam Laskar Pelangi, hidup harus selalu memberi. Bagaimana bila seseorang yang seharusnya memberi malah terus-menerus meminta. Memaksa pula. Yang terjadi adalah runtuhnya sebuah hegemoni yang dibangun oleh ambisi dan keserakahan. Sudah banyak contohnya. Bahkan yang paling mutakhir sekalipun.

Cita-cita besar itu kini telah ditampakkan secara nyata oleh Laskar Pelangi. Dulu, negeri ini merdeka oleh karena sebuah cita-cita besar. Seharusnya cita-cita itu terus dipelihara, mengingat negeri ini masih terus terpuruk dan dipandang sebelah mata oleh negeri-negeri tetangga. Kini saatnya cita-cita besar itu harus diraih. Setidaknya, Film Laskar Pelangi adalah sebuah cita-cita besar dari kualitas sebuah film yang dapat dibanggakan oleh Negeri yang bernama Indonesia.


Bogor 1008

Senin, 13 Oktober 2008

PUISI

YA AKU JATUH CINTA
Kau dengarkah
Degub jantung membelah
Rerumputan
Desir darah menyelam
Kolam teratai

Hatiku menyerah
Pasrah pada cinta yang menjemput

Biarkan kulakukan
Demi waktu yang selalu tertunda
Untuk berjuta alasan
Tak kan ku tolak
Tak kan ku tolak

Tak rela bila
Bulan kembali terserak

Jangan pergi
Ku akan berlari



Bogor 1008

Kamis, 09 Oktober 2008

PUISI

TAMAN, CINTA

Ketapang gugur daunnya demi pucuk baru
Yang segera merindangi hatimu
Dari panas dan hujan

Bogor, 0808

GEGURITAN

MBURU PEDHET UCUL

Bingunge wong sak pasar bingunge pedhet ucul
Nerak rombong kobong nerak brambang pirang-pirang
Juadah sak tampah kutah njempalik mblader menyang ratan.
Ratan gemrubuh wong nggurak pedhet ucul
Brang lor brang kidul
Pedhet bingung ora dunung
Wong sak pasar mburu nyrimpung

Bogor 0809

PUISI

KALAU SAJAK TAK HINGGAP DI HATIMU

Kalau sajak tak hinggap di hatimu
Mudah-mudahan musim depan
Migrasi ke sarangmu


Bogor 0108

Minggu, 21 September 2008

PUISI

KABAR

Kabar
Telah membentukmu menjadi api
Kabar
Kutelan begitu saja tanpa melihatmu berkobar
Kabar
Berdiriku pada tanah berguncang
Kabar
Dan ku pun menjadi api


Bogor 0608

PUISI

SEDANG BERCERMIN

Seberapa dalam tunduk pada simpuh kakimu
Bahkan kau benamkan pula kepalamu
Dalam debu
Dalam debu

Ragamu sia-sia menjangkauNya

Berdiri dan hadapi Dia
Dalam pengabdian
Dalam pengabdian

Ruhmu kan kembali padaNya


Bogor 0308

PUISI

BATU PIJAK

Telah kuletakkan kedua kaki
Pada batu pijak
Yang selalu goyah
Terombang-ambing angin
Terayun-ayun gelombang


Bogor 0308

PUISI

PIRUS DEDAUNAN

Laju pagi, waktu memburu entah
Embun terbirit-birit di tepi ranting
Matahari menyepuh pirus dedaunan
Ki Hujan gagah memayung

Bogor 0308

Rabu, 10 September 2008

CELOTEH

SANG PEMBAWA PESAN

Kabar tentang tingkah laku manusia Indonesia semakin beragam. Boleh jadi karena media masa kini berkembang pesat. Teknologi komunikasi yang semakin canggih. Dan para pewarta yang semakin tersebar di pelosok-pelosok negeri. Bahkan sekarang, orang bukan wartawan resmipun dapat menyampaikan kabar. Layaknya kita menyampaikan kabar kepada saudara sendiri yang jauh. Bedanya, kabar itu kini dapat dibaca dan diketahui oleh khalayak ramai.

Kabar yang sedang ramai menyangkut tingkah laku manusia Indonesia akhir-akhir ini adalah tentang kasus penyuapan oleh AS dan pembunuhan berantai oleh FIH. Kabar yang mungkin membuat kita bertanya-tanya, masa kini, semakin bobrokkah mentalitas dan kelakuan manusia Indonesia.

Merunut ke berita-berita masa lalu hingga sejarah Indonesia, sesungguhnya kita dapat melacak betapa manusia Indonesia juga sama dengan bangsa-bangsa lain di dunia ini yang dapat berbuat kebajikan dapat pula berbuat kerusakan. Kita mengenal dan mencatat siapa-siapa manusia Indonesia yang berbuat kebaikan dan siapa yang busuk. Namun, pelajaran apakah yang dapat kita ambil dari sana ?

Para pelaku yang telah menorehkan kabar dan cerita itu adalah Sang Pembawa Pesan. Mereka adalah Pembawa Pesan kepada kita, bahwa manusia Indonesia adalah manusia biasa yang setiap saat dapat berbuat apa saja. Sesungguhnya, manusia Indonesia adalah bagian dari manusia dunia. Ketika manusia dunia dapat berbuat apa saja, begitu pula manusia Indonesia.

Jadi, sebagai manusia Indonesia, tak perlu larut dalam kesedihan mendengar kabar bahwa ada manusia Indonesia yang menjadi koruptor, menjadi penjagal manusia, menjadi penipu, menjadi perusak di negara orang. Sebab, manusia dunia ada juga yang menjadi penjagal manusia dengan menyerbu negara lain. Memberondongkan senapan pada anak-anak sekolah. Melakukan bunuh diri masal karena menganggap kiamat sudah dekat. Pembunuhan karakter terhadap lawan politik.

Tak perlu bergembira berlebihan pula bila manusia Indonesia menjadi juara Olimpiade ilmu pengetahuan, negosiator ulung untuk beberapa konflik antar negara, penjaga perdamaian di negara-negara yang sedang berperang. Sebab manusia dunia juga melakukan itu.

Masalahnya sekarang, ketika telah mampu membaca pesan dimana manusia Indonesia sesungguhnya berada dalam posisinya di dunia, apa yang dapat kita lakukan. Bukankah manusia Indonesia, seperti juga manusia dunia, juga dihadapkan hanya pada dua pilihan saja ; Ya atau Tidak, Hitam atau Putih, Pahlawan atau Pecundang, Baik atau Buruk.

Sang Pembawa Pesan telah datang berkali-kali. Ada yang menawarkan dunia yang busuk dan ada yang menjanjikan dunia yang lebih baik. Manusia Indonesia masih diberi kesempatan untuk memilih. Termasuk menjadi maju atau terbelakang.


Bogor, 0808

Selasa, 09 September 2008

GEGURITAN

SEMPAK KELIR KREM

Sempak di dol ning lapak-lapak
Pinggir dalan panggon awu seliweran.
Dipilih, diangkat, dipenteng, diawut-awut
Dibanting
Sing kadung suwek diseleh ngisor
Sing isih apik diseleh nduwur

Nasibe apik sempak krem sing dituku
Diesemi, dikudang, dikreseki

Tapi opo yo pancen apik nasibe
Ning omah tanpa diumbah
Sempak krem langsung dianggo
Ning njero
Ning njero

Ning njero peteng ora ketok opo-opo
Telung dino ora diganti ora ketoro

Hawane sumuk
Sempak protes
Nek duwe kringet yo wis netes
Mbatin karo sempake Superman
Kelir abang dianggo njobo
Nasibe apik tenan
Sempak Superman pancen bejo

Protese sempak krem dirungokne sing duwe
Bengi iki ditukokke celono anyar
Nek dianggo melorot sithik agawe ser
Bejane sempak krem rodok iso ambegan
Dijak mlaku-mlaku karo ndelok pemandangan

Tapi opo yo bejo nasibe
Telung dino ora diganti mesti ketoro
Dlemok-dlemok kuning marahi loro moto
Wis suwek sithik
Langsung dibuwak

CERPEN

SAKIT GIGI

Mungkin karena ambang rasa sakit yang menurun atau karena ini memang serangan terhebat dalam sejarah sakit gigiku, dua malam berturut-turut kantukku tak lagi dapat membujuk mata untuk segera larut di alam mimpi karena terganjal gigi yang senut-senut. Setiap butir Ponstan 500 miligram yang kuminumpun tak juga mampu menghilangkannya. Hanya reda sebentar lalu perlahan muncul kembali. Dan setiap kemunculannya kembali, seolah selalu membawa dendam yang tertunda hingga terasa lebih sakit dari sebelumnya.

Karena semakin tak tahan rasa sakitnya maka kuputuskan pergi ke dokter gigi. Terbayang sudah satu gigiku akan tanggal dan tak lagi mendapat ganti dari alam karena jatah telah habis. Atau entahlah, mungkin ada kebijaksanaan lain dari sang dokter agar tak mencabut gigi gerahamku, aku pasrah saja. Lalu kujatuhkan pilihanku pada dokter gigi di sebuah poliklinik RS kelas menengah. Berharap mendapatkan harga yang lebih murah bila aku nanti harus bolak-balik mengunjunginnya.
Pada kunjungan pertama, ternyata sang dokter berkeputusan untuk tak mencabut gigi depanku. Alhamdulillah, aku tak jadi bogang. Dokter memutuskan untuk mengebor, membersihkan karang gigi, mengobati infeksi dan mematikan syaraf yang sakit.
Kunjungan kedua, sakitpun berkurang dan dokter memutuskan untuk menambal lubangnya. Tapi tidak untuk kali ini. Kunjungan kedua ini adalah mempersiapkan lubang untuk ditambal tetap di kunjungan ketiga nantinya.

Kunjungan ketigapun kujalani.Sebuah sore yang basah aku menunggu giliran di ruang tunggu poli gigi yang menyatu dengan ruang tunggu apotik. Akupun tak segelisah pada kunjungan pertama dan kedua karena sakit gigi tak lagi terasa. Di tengah ketenangan ruang tunggu yang hanya didominasi oleh suara pelan dari pesawat televisi di seberangku, tiba-tiba pecah oleh canda tawa sebuah keluarga yang datang ke ruang tunggu. Sebuah keluarga yang tampak sederhana, terdiri dari seorang bapak, ibu, nenek dan cucu perempuan usia sekitar 3 tahun. Merekapun berbaur. Sang nenek duduk di sebelahku sementara sang bapak dan cucu duduk di depanku. Sang ibu langsung menuju apotik. Rupanya mereka selesai dari ruang dokter lain dan siap menebus obat. Seperti aku, merekapun menunggu. Dan ruang tunggupun jadi lebih ramai karena sang cucu perempuan yang lucu mondar-mandir antara ibunya dan neneknya.

Tak lama sang ibupun dipanggil oleh petugas apotik. Kemudian terjadi perbincangan di antara mereka. Tampak ada yang lucu dari perbincangan mereka karena kulihat sang ibu tertawa-tawa. Lalu sang ibu beranjak dari depan apotik dan berjalan ke nenek yang ada di sebelahku sambil membawa selembar kertas resep. Wajahnya tampak sumringah. Sesampai di depan sang nenek sang ibu berkata, “Mak ! Kite pulang aje ye. Obatnya kagak bisa ditebus.....”

“Emang ngapah ?” Tanya sang nenek.

“Tau nggak.....berape harge obat emak ?”

“Berape ?”

“Satu jute tujuh ratus lima puluh ribu rupiah !” kata sang ibu sambil tertawa. Dan kemudian memandangku. Akupun tersenyum bingung. Tiba-tiba aku merasa sakit gigiku hendak kambuh lagi.


Depok 0406

Rabu, 27 Agustus 2008

PUISI

TENTANG JAM BESAR

Jam besar di sudut ruangan itu mati
Padahal dia suka berbunyi dong, dong, dong
Karena semalam kau lupa menarik tuasnya
Maka dia tak berbunyi dong, dong, dong


Depok, 0705

PUISI

TENTANG TEMBIKAR DAN WAKTU

Kau maklumi sajalah karena dia manusia yang terbuat dari lempung.
Sekeras dan sebagus apapun kau bentuk, ia kan mudah retak hingga pecah berkeping-keping.
Kalau kau masukkan detak jam yang menunjukkan waktu, maka ia kan kekal.
Bukan lagi tembikar, tapi waktu yang kekal.


Depok, 0705

PUISI

TENTANG HUJAN DI MUSIM KEMARAU

Hujan di musim kemarau tak bisa dipercaya
Tapi bukankah dia telah membasuh debu.


Depok, 0705

CERPEN

RUMAH DIJUAL

Banyak hal yang kuingat dari rumah dijual itu. Ada dua buah batu sebesar kepala orang dewasa, duduk di kiri kanan pagar bambu, pagar roro kembang sore. Aku di masa kecil, setiap petang menjelang batu itu kududuki. Melihat-lihat ke jalan, menyapa orang-orang. Mbak, Mas, mau kemana ? Lalu ku ditertawakan.

Banyak hal yang kuingat dari rumah dijual itu. Di samping kirinya ada tanah kebun. Kadang singkong, kadang jagung, kadang kacang.Tempatku mencari jangkrik. Pernah suatu kali ku bermain, tanganku merogoh sebuah lubang, jari tengah kananku tersengat entah apa. Lalu berlariku menerabas batang-batang pohon jagung, menerobos pagar carang. Panik, berteriak, menangis. Beruntung Pak De Sono segera datang dan batu akiknya beraksi. Ditempelkannya pada yang tersengat. Lenyaplah senut-senut di jariku.

Banyak hal yang kuingat dari rumah dijual itu. Ruang tengahnya tempat menggantung daun-daun tembakau. Bila musim panen tiba, tak ada ruang tengah yang tersisa. Ruang depannya tempat memipil jagung. Bila musim panen tiba, tak ada lantai semen yang tersisa..

Banyak hal yang kuingat dari rumah dijual itu. Di sinilah aku pernah menjadi pengantin sehari. Dikhitan dan diselamati.

Banyak hal yang kuingat dari rumah dijual itu. Yang hingga kini tak juga laku. Kata orang, terlalu banyak kenangan ditanam di lantai, tanah, dinding, tiang-tiang dan para-paranya . Calon pembelipun segan menawarnya.



Roro kembang sore = tanaman bunga Mirabilis jalapa
Carang = Ranting-ranting bambu kering


BOGOR 0208

Kamis, 14 Agustus 2008

PUISI

De Ja Vu
; Ley

Masih ingatkah kau kota yang tertindih waktu
Matahari merintih di pucuk-pucuk pohon jaranan
Aku telah meninggalkannya


Bogor, 0808

PUISI

PESTA APEM
; Yonathan

Ibuku memasaknya. Setelah matang dibagikan ke tetangga. Dua, tiga di antaranya dilemparan ke atap genting. Lalu burung-burung berdatangan berebut mematukinya.
Untuk arwah keluarga kita, katanya. Burung-burung akan membawanya ke angkasa. Dipersembahkan bagi penguasa alam agar tak mengirim pagebluk, bencana dan kemelaratan.

Para tetanggapun memasaknya. Setelah matang pun ibu dibaginya. Dua, tiga di antaranya dilemparkan ke atap genting. Dan burung-burung berdatangan pula.
Para tetangga punya harapan yang sama dengan ibu. Agar tak ada pagebluk, bencana dan kemelaratan.

Hari itu kami berpesta apem, karena esok puasa kan tiba. Saatnya tirakatan. Agar tak ada pagebluk, bencana dan kemelaratan.


Depok 0307

PUISI

SEKELUMIT ALIS PADA PERAHU BULAN
; perca

Malam turun pada sabit bulan
Mengendap endap

Lebih mirip perahu tak berlayar, katamu
Tak seperti alis dikira orang
Atau lebih mirip potongan semangka

Lalu kita berenang pada kata-kata
Melupakan malam
Melupakan awan hujan yang mulai mengancam

Kaupun tak peduli lagi
Ketika perahu bulan telah pergi
Meninggalkan gurat alur di langit

Karena itu hidup harus terus diedit
Oleh kata-kata
Begitu sabda penyair kita


Depok 1106

PUISI

PULANG KAMPUNG
; Rohman, Rohim

Berjalan cepat menyusuri kampung
Mencari rumah dengan gambar Syekh Abdul Qadir Jaelani
Menunggui remang ruang tamu
Saat matahari siap berpamitan
Bulan, entah di mana

Sayup di kejauhan
Sapa Rohman dan Rohim di ujung gang
“Selamat datang, “kata mereka
“Sebentar kita bermain bersama”

Rumah berdinding putih setengah bata setengah bambu
Pagar cat hijau memanjang sampai ke langit
Tempat kami sering memanjat, terjatuh dan
Tertawa-tawa

Pohon jambu airpun masih ada
Tapi dia tentu sudah sangatlah tua
“Setua guru ngaji kita,” kata Rochim
Kamipun tertawa-tawa

Langgar kayu saatnya memanggil
“Ssst, masih ingat celana pendekmu yang hilang dari balik pintu ?” Tanya Rohman
“Kulihat Jibril memakainya beberapa tahun yang lalu.” Kata Rohim
Kamipun tertawa-tawa

Malam mengguyur cepat bersama kerlip bintang
Ramai suara orang Tadarus memberondong ke langit
Lalu, sepasang sayap mendekap
“Saatnya untuk kembali,”


2006

PUISI

RUMAH KENANGAN

Bapak berdiri di pintu ketika ku datang
Saat itu musim jati meranggas, ku bergegas
“Cepat pulang,” katanya di telepon,
“Sedikit lagi rumah tinggal kenangan”

Pun ku berjalan tak menengok, ketika
Si Mbah berangkat menuju ladang
Tempat ku menyelinap
Di antara pepohonan jagung
Bayang-bayangnya menghilang

Kini rumah pun segera bergegas
Menyusul Bapak, menyusul ladang, menyusul Si Mbah


2006

Selasa, 29 Juli 2008

PUISI

SELAMAT PAGI , CAK MAT


Kau rasakan kini kelelahan yang tak seperti dulu saat kamu gembira berolah raga pagi, sore, bak tak ada kelelahan bertubi-tubi. Kau rasakan kini kepenatan yang tak seperti dulu saat kamu giat bekerja di lapangan -kau menyebut begitu- bak tak ada kepenatan tak putus. Kini otot, urat, darah serasa membeku tak selancar dulu saat kau tak henti mengukur jalan, menggiring awan, menggauli matahari, mencumbu malam.


Kini kau menukik pada perasaan dan otak yang terperas tak seperti dulu kala kau berjalan dengan tegap percara diri, penuh dengan perhitungan untung takut merugi materi. Kini kau memendam malam pada sunyi mengukur diri, mengukur panjang jalan yang telah kau lalui lalu baru membuat sebuah keputusan yang kau sendiri sebenarnya gamang akan remang yang menghadang



Depok 0605

GEGURITAN

KERE MUNGGAH BALE.


Kere munggah bale. Tlacak asu, tlacak asu. Diamput. Sega golong glundung pringis

Kere munggah bale. Ra weruh dur. Diamput. Bubrah rubuh-rubuh gedhang ombyokan

Kere munggah bale. Bale rusak negara bubrah. Diamput. Sing waras ngalah.

Sing waras ngalah. Sing waras kalah.

Depok, 0704

Kamis, 06 Maret 2008

CERPEN

BOM

Kopor kulit coklat itu sudah hampir setengah hari ada di
sana. Di bawah bangku kayu berbingkai ukiran besi warna hitam. Di sebuah stasiun tua dan besar. Pemiliknya, seorang laki-laki tua berjenggot perak, bersafari warna krem sedang asik membaca koran, duduk di bangku tepat diatasnya.

Sekali-sekali keningnya berkerut. Menambah lipatan-lipatan yang telah berbaris di sana entah sejak kapan. Berkali-kali kacamata bulatnya melorot. Menyusuri pangkal hingga hampir ke ujung hidung mancung yang membengkok di bagian bawahnya. Lalu dia kembalikan pada tempatnya semula sehingga matanya tak lagi-lagi mencari kata atau kalimat yang tiba-tiba hilang mengabur.

Orang-orang di sekitarnya jadi menyelidik. Tapi tak juga mereka mencoba bertanya atau saling bertanya. Mereka cuma berpikir lalu menduga.Siapakah orang tua itu. Dan yang paling penting, apakah isi kopor kulit coklat di bawah bangku itu.

Beberapa menduga, laki-laki tua itu adalah penumpang biasa. Yang sedang menunggu keberangkatan kereta entah kemana. Beberapa pula menduga, laki-laki tua itu orang gila. Jaman seperti ini, mana ada orang bergaya bak Meneer Belanda. Beberapa malah bercanda dengan pikirannya, jangan-jangan dia teroris. Dan isi kopor kulit coklat itu adalah BOM.



Depok, 0503

Selasa, 26 Februari 2008

PUISI

HARMONIKA METALIK


Dylan merayuku dengan harmonika metalik

Dylan membuaiku dengan kata berbisa

Memainkan nada di atas awan

Meramu kata dibelai rerumputan

Harmonika metalik kini ku punya

Kutiup kisi-kisinya di atas mega-mega

Gelembungkan balon-balon kata

Kupecah sunyi jadi kawan bermakna

Bogor, Des 97




KUPELUK BENCANA


Akhirnya aku mengerti pula bahasamu

Wahai tonggak kayu di bukit sendu

Kau tunjukkan abu hitam

Engkau diam

Hutan jelaga

Tapi sayang

Lagumu sedih hingga meradang

Tak lagi kami kau beri peluang

Anak manusia berdendang

Kuterima kiriman lumpurmu

Sampai paru-paru

Bernafaspun tak mau

Sampaikan salamku pada hujan

Sebentar lagi kita akan berpelukan

Depok, Feb 03

Rabu, 30 Januari 2008

PUISI

APA KATA

Apa kata tanah

Kutumbuhkan ini untukmu

Apa kata angin

Kutiup dari tujuh samudra

Apa kata api

Kubakar dengan energi panasku

Apa kata air

Kusiram untuk kesegaran jiwa

Apa kata manusia

Kuterima ini untukku

Apa kata raga

Kukembangkan lalu kubentuk

Apa kata akal

Kuolah dengan cahyaMu

Apa kata ruh

Kurayu untuk kukembalikan


Lenteng Agung 1292

Senin, 21 Januari 2008

CERPEN

……PERTEMPURAN BAYANG-BAYANG

membalas dengan sebuah loncatan cepat. Menyerangku dengan cakarnya. Mendekap dan melipat-lipat tubuhku. Jemari tangannya menghunjam punggungku. Ganti aku mengerang. Kepalaku terdongak ke langit yang hampir tertutup tajuk pohon-pohon hutan. Aku mencari matahari, mencari udara segar.

“Kau memang tak cukup berpengalaman tampaknya,” katanya. Aku terdiam. Sesungguhnya aku malu. Malu karena berani menantangnya untuk beradu.

Tapi sudahlah. Dia kini ada di depanku. Apapun awalnya aku harus bisa mengalahkannya. Lalu membunuhnya ? Tidak. Sebaiknya setelah ini ada pertempuran lain. Sehingga aku bisa mempelajari ilmunya sebelum aku benar-benar mengalahkannya.. Membunuhnya. Tidak. Dia tak boleh mati. Lagipula, belum tentu kali ini aku bisa mengalahkannya.

Tiba-tiba dia kembali menyerangku. Sebuah pukulan beruntun menimpa dadaku. Sesak rasanya. Aku hampir tak bisa bernafas. Demi mempertahankan udara di paru-paruku, aku menghisap kuat-kuat, agar oksigen terus berhambur ke dalam dadaku. Lalu dalam jarak dekat sikuku kuhantamkam pada lehernya. Dia berhasil mengelak ke samping dan tersenyum. “Kau cukup bergairah sayang,” katanya menggoda. Lalu dia membuka kedua kakinya, mengeluarkan jurus supit udang. Dua kaki itu secepat kilat menuju ke arah pinggangku. Menjepit dan membanting tubuhku di sebuah batu besar di tepi sungai kecil. Kepalaku tenggelam ke dalam air. Sementara sebagian besar tubuhku tergolek di sebuah batu hitam pipih besar. Kedua kakinya masih menjepit pinggangku.

Sekuat tenaga aku keluar dari himpitan itu. Tapi jepitan itu semakin menguat. Aku mencari akal. Kutepuk air dekat kepalaku. Butiran air yang naik ke udara kugunakan untuk menampar mukanya. Dia gelagapan. Dan saat jepitannya mengendur, kuangkat tubuhku dan tubuhnya bersama-sama hingga batu-batu kecil ikut berhamburan. Karena kehilangan keseimbangan, diapun melepaskan jepitan di pinggangku. Lalu meloncat ke sungai yang kedalaman airnya cuma sebetis. Melihat dia sibuk menyeimbangkan tubuhnya, segera kususul dengan sebuah serangan ke arah perutnya. Tak bisa menghindar, tubuhnyapun terdorong oleh tenagaku. Mulutnya mengeluarkan jeritan kecil. Tubuhnya jatuh seperti pohon tumbang, terlentang di air. Percikannya sempat menjamah wajahku.

Setelah kuseka mukaku, aku tak melihat tubuhnya di tempat dia jatuh tadi. Tiba-tiba sebuah serangan dari belakang mencengkeram dan menarik rambutku. Tanpa bisa melawan, aku ditarik mengikutinya. Aku dibawanya terbang menyusuri sungai kecil itu. Berkelok-kelok di kedalam lembah. Semakin ke dalam udara semakin dingin. Aku merasakannya di seluruh kulitku. Kupicingkan mata, matahari tak lagi dapat dilihat dari sini. Apalagi berharap sinarnya hinggap di tanah. Aku hanya melihat larik-larik sinar hijau yang terpantul di daun-daun pakis. Diredam dinding jurang berlumut.

Dia masih mencengkeram rambutku sambil terus melompat dari batu ke batu yang jaraknya berjauhan. Kudengar tawa kecilnya di sela suara air menderu yang kian lama kian jelas. Aku dibawanya ke sebuah air terjun.

Aku sendiri tetap tak bisa melawan. Tubuhku berpilin-pilin. Setiap kali aku mencoba menjejakkan kaki di sebuah batu, dia segera menghentakkan tarikannya. Tubuhku kembali melayang. Dengan sebuah putaran yang sangat keras, tubuhku dihantamkan pada dinding dalam air terjun. Aku kembali mengerang. Terduduk lunglai aku di bawah hantaman air yang terus menerus menimpa punggungku. Di sana, perlahan aku mengumpulkan tenaga. Ini perkelahian panjang, pikirku. Aku masih punya cukup tenaga untuk terus berkelahi sambil terus mengasah kemampuanku dan mempelajari jurus-jurusnya. Dari balik air, kulihat bayang-bayangnya berdiri di atas pokok kayu mati yang tumbang di sisi kolam air terjun.

Dengan sebuah pijakan kuat di dinding dalam air terjun, aku melompat keluar menyerangnya. Seranganku itu rupanya telah ditunggu olehnya. Dengan sedikit kelitan, dia bisa menghindar dari pukulanku. Tanganku menemui ruang kosong. Tapi, sesungguhnya ini sebuah serangan yang terencana. Begitu aku gagal, langsung kususul dengan pukulan berbalik arah yang dengan telak menimpa dadanya. Mulutnya memekik kecil. Tanpa berpikir panjang, demi untuk mengalahkannya, aku segera menubruknya dengan seluruh tubuh dan tenagaku. Dia terjengkang di pasir hitam tepian kolam. Tubuhnya menggeliat.

Tak sabar aku segera memburunya lagi. Sebuah rangkaian serangan beruntun kutimpakan kepadanya. Seperti tak hendak melawan atau sekedar mengelak, dia terima saja semua seranganku. Tubuhnya hanya bereaksi kecil atas setiap serangan-seranganku. Wajahnya tampak tetap segar meski peluhnya sudah bercampur dengan air dingin pengunungan ini. Sesekali mulut mungilnya tersenyum. Atau terpekik bila sebuah seranganku tiba-tiba agak lebih bertenaga.

Entah sebuah tenaga besar dari mana, tiba-tiba menyuruhku untuk segera menuntaskan perkelahian ini. Mungkin karena melihat musuhku sudah tak berdaya dan aku berada di atas angin. Tenaga itu begitu besarnya hingga aku sendiri tak dapat menguasainya. Lepas begitu saja dan mengantam keras ke tubuhnya. Dia kembali terpekik. Lalu kurasakan angin dingin bercampur butir-butir embun menyelimuti tubuhku. Tuntas sudah perkelahian pertama kami hari itu.

Kubiarkan tubuhnya tergolek di pasir hitam tepian kolam. Sementara aku duduk di pokok pohon mati di tepi kolam tempat dia tadi berdiri.

Kami masih bertempur lagi di hari-hari selanjutnya. Mungkin karena kami sudah pernah saling bertemu, jadi kami sudah bisa membaca setiap serangan yang datang. Perkelahian kami tak lagi seperti yang pertama. Pertempuran selanjutnya mulai terkontrol dan lebih bervariasi. Meski kadang-kadang agak kasar dan brutal terdorong emosi atau kesalahan mengantispasi serangan lawan.

Pada suatu akhir pertempuran tangan kosong yang panjang, aku berkata padanya “Bagaimana kalau setelah ini kita gunakan senjata. Aku rasa untuk tangan kosong, kita sudah cukup lihai.”

“Boleh saja. Aku sendiri telah mempelajarimu. Coba kita lebih serius dan menikmati perkelahian ini.”

“Senjata apa yang kau pilih”

“Dua sabit emasku. Kau ?”

“Tombak bajaku.”

Saat itu langit abu-abu. Di tepi laut dengan pantai pasir putih yang luas kami bertemu. Matahari bersembunyi entah di mana. Mungkin dia segan atau malu bahkan bosan melihat kami selalu beradu. Ah, apa peduliku dengan matahari. Aku datang memenuhi perjanjian dengan musuhku.
Kami berdua berkonsentrasi. Jarak tak membuat kami merasa jauh. Dia seperti melekat di tubuhku. Matanya menyatu dengan mataku. Bau tubuhnya menyelimuti tubuhku.

Seperti mendengar satu aba-aba, secara bersamaan kami melompat ke udara. Sambil melayang kami saling serang. Sebuah pukulanku beradu dengan tendangannya. Terbawa tenaga tolakan itu kami berputar dan segera melancarkan serangan selanjutnya. Sikuku melayang menuju tulang iganya. Dia berputar menghindar membuat sebuah tendangan lutut mengarah ke daguku. Aku melingkar ke belakang sambil mencari pinggulnya. Tertangkap dan kuputar sekuat tenaga. Tubuhnya berputar-putar di udara. Melihat itu segera kususul dengan pukulan dua tangan ke dadanya. Kena ! Dia berpilin dan jatuh terseret di pasir. Tak kudengar erangan mulut mungilnya. Hanya suara debur ombak memukul pantai yang tertangkap berderap-derap di telingaku.

Kudekati dia. Kupastikan bahwa dia masih bisa melanjutkan perkelahian ini. Ternyata ini sebuah tipuan. Dia membuat putaran yang bertumpu pada punggungnya. Demikian keras dan bertenaga putaran itu sehingga membuat cekungan di pasir. Tiba-tiba kedua kakinya terangkat. Berputar seperti baling-baling dan mengarah ke kakiku. Dia membuat sebuah serangan sapuan bawah.

Tak urung, serangan itu menerpa tumitku. Kakiku terangkat tinggi. Aku kehilangan keseimbangan. Kupastikan aku tidak salah mendarat. Sejengkal sebelum jatuh di pasir, kulihat cakarnya sudah ada di depan mataku. Tak bisa menghindar, tangan lentik itu berubah menjadi cengkeraman di kedua sisi kepalaku. Lalu dia membuat sebuah lompatan berbalik. Membawa tubuhku melayang di udara. Saat itu kepalaku masih dalam cengekeramannya.

Karena kedua tangannya mencengkeram kepalaku, aku melihat ada sisi terbuka di dadanya dan rusuknya. Kubuat pukulan siku vertikal ke arah ulu hatinya. Rupanya dia telah siap dengan serangan itu. Lutut kirinya terangkat tinggi hingga melindungi ulu hatinya. Sikuku membentur tulang keras yang membuatku ngilu. Dia tertawa.

Sebuah serangan darinya sungguh tak dapat kuduga. Kaki kanannya yang bebas terangkat menuju selangkanganku. Benturan keras terjadi. Seiring dilepaskannya cengkeraman di kelapaku, aku terbanting di pasir. Aku menggeliat, mengerang, merasakan hawa panas yang mengalir di sekujur tubuhku. Selintas kulihat dari mataku yang menyipit, dia tersenyum.

Pelan-pelan aku berdiri. Kupersiapkan lagi serangan ke arahnya. Dengan sebuah dorongan bertenaga aku melompat mendekatinya. Lalu kubuat gerusan melingkar di pasir. Meninggalkan jejak sebuah lingkaran dan mengangkat butirannya ke udara sehingga kuharapkan merusak konsentrasinya.. Aku menggunting kakinya membuat sebuah bantingan. Dia mengantisipasi serangan itu dengan melompat hingga kedua lututnya melindungi dada. Dia kini berada di atasku.

Ini sebuah serangan yang terencana. Setelah kedua kakiku menemui ruang kosong segera kususul dengan pukulan ke arah tulang ekornya yang terbuka. Menghindari pukulanku, dia membuat salto di udara. Aku segera melompat tanpa menunggu dia pada posisi yang sempurna. Tendangan melingkar kuarahkan pada punggungnya. Kini seranganku mengenai sasaran. Dia turun dengan tubuh terhuyung.

Begitu kaki kiriku menjejak pasir segera kugunakan sebagai poros memutar sebuah sapuan ke arah kakinya. Kaki kananku mengenai betisnya sehingga diapun rubuh tengkurap. Dia mengerang. Aku melompat dan hendak menerkamnya. Tapi dia tak menyerah. Dia berguling menghindar. Terkemanku menemui ruang kosong. Tak kuduga, hindarannya meninggalkan dua buah pukulan di betisku. Karena terkemanku tak sempurna, aku jatuh berlutut. Saat itu dengan mudah dia mencengkeram rambutku.

Dia melayang, menyeretku ke sebuah perbukitan kapur. Kudengar dia tertawa kecil. Tubuhku berpilin-pilin. Setiap kali aku mencoba mencari pijakan untuk menjejakkan kaki, disentakkan tarikannya hingga aku kehilangan keseimbangan. Aku hampir tak dapat berbuat apa-apa.

Suasana di perbukitan kapur ini lebih hangat daripada di tepi laut tadi. Di sini kutangkap matahari bersinar dengan gagahnya. Ah, di sini rupanya dia bersembunyi.

Aku masih dalam cengkeramannya. Dalam situasi serba salah seperti itu, tiba-tiba tanganku tak sengaja meraih alang-alang yang tumbuh di sekitar perbukitan ini. Setelah aku menjebol beberapa lembar daunnya yang lebar dan tajam, aku menggunakan alang-alang ini untuk melecut kakinya. Karena tak menduga mendapat serangan tiba-tiba, dia terkejut dan melepaskan cengkeraman di rambutku. Aku terjatuh, tersuruk-suruk di tanah kapur keras. Lalu kami masing-masing mengambil posisi menyerang.

“Bagaimana, kita gunakan senjata ?” Tanyanya.

“Baik. Kalau kamu sudah siap.”

Dia mengeluarkan dua buah sabit emas dari balik bajunya. Digoyang-goyangkan sabit itu hingga membuat pantulan sinar matahari di mataku. Aku sendiri mengeluarkan tombak baja dari punggungku. Kuputar-putar di atas kepala hingga menimbulkan bunyi berdengung keras. Putaran tombak itu membuat angin berputar di sekelilingku. Daun-daun beterbangan, alang-alang merunduk, batu batu kecil bergeser dari tempatnya.

Serempak kami melompat melakukan serangan. Kudengar dua sabit berdesing-desing di udara. Kian lama kian jelas. Kusorongkan tombakku ke depan membuat sebuah tusukan. Di udara, ketika kurasa tombakku sudah masuk jangkauannya, tiba-tiba dia berpilin. Kedua sabitnya menjepit tombakku. Dia mencoba menangkis tombak bajaku dengan cara memilin. Benturan itu begitu kerasnya hingga menimbulkan bunga api yang berhamburan. Aku menyeringai. Kupikir, tenaganya besar juga.

Kucoba melepas jepitan itu tapi dia menahan dan memutarnya. Kurasa satu-satunya jalan adalah mengikuti putarannya. Segera saja kulakukan putaran yang lebih keras pada tombakku. Bunyi gesekan kedua jenis senjata itu semakin keras. Berdesing, berdengung, memancarkan bunga-bunga api ke segala penjuru. Aku tertawa. Kupikir inilah pertempuran sesungguhnya.

Tiba-tiba dia melepaskan jepitan pada tombakku. Dia berputar membelakangiku. Sebuah pancingan supaya aku mengejar dengan sebuah tusukan. Dan akupun terpancing. Kusorongkan tombakku ke tubuhnya. Dia berkelit, memutar dan membuat sapuan bawah dengan sabitnya ke arah pahaku. Kena. Aku mengerang. Sejenak kurasakan hawa panas mengalir dari bawah ke atas kepalaku. Kulihat dia mundur mengambil jarak. Dia tersenyum.

Merasa kian gemas, aku lakukan serangan sambil memutar tombak bajaku di depan dada. Dengan cepat aku melompat maju. Dia menghindar dengan cara melompatiku. Hendak mengambil posisi di belakangku. Sambil melompat, sabitnya membuat tarikan samping yang cepat ke arahku. Aku mengantisipasi serangan balik itu dengan merunduk dan membawa putaran tombakku ke atas kepala. Kembali, kedua senjata itu berbenturan. Suaranya nyaring memantul berkali-kali di bukit kapur.

Ketika jarakku dengannya menjadi cukup jauh, aku melemparkan putaran tombakku ke arahnya. Dengan sebuah gerakan cepat dia menangkis seranganku. Tombak bajaku terpental ke bukit kapur sebelah kiri kami. Kekuatan tenaga putaran tombak itu bertambah bersama tolakkannya. Hingga ketika membentur bukit kapur, senjataku membuat gerusan yang sangat dalam di bukit itu. Serta-merta, bukit itupun bergoyang. Batu-batu berguguran dari atas. Bunyinya bergemuruh. Bukit kapurpun runtuh.

Dia terkejut, tapi tidak demikian halnya dengan aku. Aku tahu, senjataku memang seampuh itu. Kini tombak bajaku telah kembali ke tanganku.

Dia mengambil sikap untuk memulai sebuah serangan. Akupun bersiap menghadapinya kembali. Beberapa langkah cepat dibuatnya untuk mendekatiku. Kusangka dia akan menyabetkan sabit ke arah dadaku, tapi ketika hampir mendekatiku dia berguling dan membuat tendangan ke arah selakanganku. Mendapat serangan seperti itu aku berputar melompat ke atas. Terlambat. Ujung tapak kakinya mengenai sasaran. Lumayan juga. Tendangan ini membuatku meringis.

Lalu dia berputar, bertumpu pada punggungnya dia melompat berdiri dan menyabetkan sabitnya ke kakiku. Aku kembali melompat ke atas. Belum selesai putaranku, kakinya mendarat telak di pinggangku. Terdorong tenaganya, aku jatuh menyusur tanah kapur.

Aku baru sadar saat itu, matahari mulai bergeser melarikan diri. Mungkin karena tak ada lagi tempat baginya untuk sembunyi. Bukit kapur satu persatu kepingannya berguguran. Aku sendiri tak menyangka kalau akibat dari tombak bajaku memberikan efek berantai yang perlahan tapi pasti meruntuhkan perbukitan putih menjulang.

Sejak itu langit berwarna abu-abu berubah merah darah. Bukit kapur yang menjadi latar belakang kamipun telah rata runtuh. Puing berserakan dan debunya bergulung, berpusar ke atas. Menghalangi pandangan kami. Sebentar lagi matahari akan tertutup awan debu itu. Atau matahari yang menghampirinya, aku tak tahu.

Aku telah lelah bertempur. Kurasa, ini adalah sisa-sisa tenaga terakhirku. Aku terduduk diam di atas batu karang yang tersisa. Dia bersimpuh berjarak di depanku, memunggungiku. Dia kelihatan tak lagi bernafsu menyerangku. Akupun demikian. Sungguh. Ini sebuah rangkaian pertempuran yang hebat. Ekspresi wajahnya tak terlihat. Gembirakah dia, sedihkah dia. Aku sendiri sibuk dengan lelahku.



Depok,2003

Kamis, 03 Januari 2008

CERPEN

Cerpen : PERTEMPURAN BAYANG-BAYANG Hal 1

Sekarang. Ijinkan aku meninggalkanmu.

Sejak langit berwarna abu-abu hingga berubah merah darah. Bukit kapur yang menjadi latar belakang kamipun telah rata runtuh. Puing berserakan dan debunya bergulung, berpusar ke atas. Menghalangi pandangan kami. Sebentar lagi matahari akan tertutup awan debu itu. Kami telah lelah bertempur. Aku terduduk diam di atas batu karang yang tersisa. Dia bersimpuh berjarak di depanku, memunggungiku. Ekspresi wajah perempuan itu tak terlihat. Gembirakah dia, sedihkah dia. Aku sendiri sibuk dengan lelahku.

Ini pertempuran kami untuk kesekian kali. Setiap kali bertemu, kami selalu beradu. Sejauh ini, perkelahian beranjak semakin seru. Awalnya kami buta akan kelebihan dan kelemahan masing-masing. Kamipun bertempur seadanya. Aku datang dengan tangan kosong, demikian pula dia. Lalu kami berkelahi membabi buta.

Sejujurnya, saat itu aku tak terlalu berilmu. Entah dia. Setidaknya aku tak punya pengalaman berkelahi sebelumnya. Dalam pertempuran pertama itu aku menanyakan padanya, adakah dia punya pengalaman berkelahi sebelum denganku. Dia tersenyum dan tanpa kusangka dia menjawab dengan mengeluarkan sebuah tendangan sabit menderu-deru memutar debu. Mataku kelilipan. Katanya, lihat saja, aku akan menikmati perkelahian ini.

“Jadi, kau pernah melakukannya sebelum ini”.

“Tak seserius ini,” katanya. ”Hanya perkelahian pura-pura.”

“Dengan siapa ? musuh-musuhmukah ?”

“Ya, beberapa orang. Bahkan beberapa mungkin kau kenal. Bagaimana denganmu ? ”

“Aku juga berkelahi. Tapi hanya dalam dunia khayalku. Aku belum pernah berkelahi sesungguhnya.”

“Silakan memulai,” pintanya.

Saat itu, dengan cepat kuseret dia ke sebuah lembah. Kuserang dia dengan sebuah tabrakan yang bertenaga. Dia terbang mengerang. Menghantam dinding jurang berlumut. Tubuhnya terkulai sebentar lalu bangkit menatap mataku dalam-dalam. Tiba-tiba dia……
Bersambung hal 2