SELAYANG BAYANG

SELAMAT DATANG

adalah ruang di mana ada kehidupan yang saling menghidupi. Mungkin ada puisi, mungkin ada cerita, mungkin ada renungan atau oleh-oleh kecil atas sebuah perjalanan, mungkin ada imaji, bahkan mungkin sekedar omelan belaka. Suka maupun tak, apabila berkenan, tinggalkan jejak kata.
Apapun, selamat menikmati. Semoga menjadi inspirasi.
Terima kasih telah berkunjung.

Rabu, 30 Desember 2009

CELOTEH

IJINKAN AKU MENCATAT NAMA BESARMU DI CATATAN KECILKU

Sebuah pembicaraan kecil bersama Ibu, tentang dirimu, yang akan selalu kuingat sepanjang hidupku. Di sebuah beranda rumah kecil yang disampingnya terdapat pot-pot bunga anggrek yang tampak agak terlantar.

IBU : Kowe ngerti ra jenenge tanduran iki ? ( kamu tau nggak nama tanaman ini )
Kata Ibu sambil menunjuk sebuah tanaman di dalam pot yang diletakkan di tembok rendah pembatas teras.

Wah kupikir ibu sedang menge-tes pengetahuanku tentang tanaman. Mengingat aku sedang mendesain taman di halaman rumahnya.

AKU : Ini nama depan latinnya Scheflera, Bu...saya lupa nama kelanjutannya. Tapi orang kita mengenalnya dengan Tanaman Walisongo.

IBU : Jane salah. Sing bener wali iku onok sepuluh ( sebetulnya salah. Yang bener wali itu ada sepuluh )

Aku terkejut. Rupanya Ibu sedang tidak menge-tes ku tentang nama tanaman. Namun ada pembicaraan tersembunyi dibalik pertanyaannya tadi. Tentu saja aku terheran-heran dengan pernyataannya barusan. Dan mencoba menebak ke arah mana pembicaraan Ibu.
Sebelum aku bertanya lebih lanjut yang pastinya adalah : Siapa wali yang ke sepuluh itu. Namun Ibu sepertinya telah mengetahui apa yang terlintas di pikiranku, beliau langsung berkata :

IBU : Sing kesepuluh iku GUS DUR

Maka meledaklah tawaku dan ibupun tersenyum-senyum.

Malam ini, Rabu, 30 Desember 2009, Pukul 22.15 di tengah kabar bertubi-tubi tentang kepergianmu ke haribaan Illahi, ijinkan aku pada catatan kecil ini menyampaikan rasa penghormatan sebesar-besarnya padamu. Seseorang yang akan kukenang sebagai yang sangat kukagumi. Dan seorang WALI KESEPULUH .

Selamat jalan Gus. Ternyata benar, kita sesungguhnya tak perlu repot-repot.




*Ibu di sini adalah : Yang saya hormati Ibu Sinta Nuriyah Abdurrachman Wahid.
Perbincangan ini terjadi di sekitar tahun 2003

Bogor 1209

Tidak ada komentar:

Posting Komentar