SELAYANG BAYANG

SELAMAT DATANG

adalah ruang di mana ada kehidupan yang saling menghidupi. Mungkin ada puisi, mungkin ada cerita, mungkin ada renungan atau oleh-oleh kecil atas sebuah perjalanan, mungkin ada imaji, bahkan mungkin sekedar omelan belaka. Suka maupun tak, apabila berkenan, tinggalkan jejak kata.
Apapun, selamat menikmati. Semoga menjadi inspirasi.
Terima kasih telah berkunjung.

Sabtu, 30 April 2011

PUISI


SAJAK MENUNGGU PAGI


Gulita dan terang terangkum sudah
Dalam janji matahari
Bila embun segera turun
Lindap rerumputan
Mesra bergayut menunggu
Jatuh di tanah
Lesap

Bintang gemintang kan menyibak
Segera setelah menarikan satu babak
Opera malam berkumandang
Dalam kelir hitam malam
Gemuruhnya dia bersorak
Riang

Atau hujan yang terdiam
Setelah mendera basahi bumi
Simponi tak terputus
Bak musik genderang bertalu-talu
Riuh rendah
Lalu hening

Cericit anak burung
Menunggu sang induk pergi
Menjemput sang surya
membangkitkan ulat
yang terlanjur lelap kesiangan

Dan pada pagi
Semesta bergantung harap



Bogor 0411

Selasa, 26 April 2011

OLEH-OLEH



Makanan Kampung : ULI JEPRET

Terbungkuk-bungkuk jalan bapak penjual makanan ini. Memikul dagangannya keliling kampung di sekitar desa Pabuaran Poncol, Cilendek Timur, Bogor. Tadinya saya salah mengira, saya pikir sang bapak berjualan peuyeum ( tape singkong ). Setelah saya datangi ternyata dia berjualan makanan yang saya tak tahu apa namanya. Uli Jepret, jawabnya ketika saya tanya.

Makanan ini terbuat dari parutan singkong yang dipadatkan dengan cara ditumbuk. Lalu dibentuk sedemikian rupa dan kemudian dikukus. Cara makannya dicocol dengan parutan kelapa yang disangrai dan ditaburi dengan gula supaya manis. Dimakan tanpa ditaburi gula pun juga enak. Saya teringat makanan serupa sewaktu saya kecil di Surabaya. Namanya Pluntir. Bedanya, parutan singkong setelah dipadatkan dan ditambahi gula lalu dibungkus daun pisang baru kemudian dikukus.

Uli Jepret, makanan kampung khas dalam keaneka ragaman jajanan rakyat Indonesia.

PUISI

P E R J A L A N A N

Sesiapa menebak
Perjalanan ini
Cerah, berkabut
Tersesat gelap mata
Lamur mata memandang
Silau, terang dunia
Belantara kenikmatan
Padang Kesengsaraan
Tertawa, menangis
Diam, hampa
Meronta-ronta

Padamu hidup
Mati berkalang tanah
Jiwa setia menari-nari
Langlang dimensi-dimensi
Dunia cermin
Pada air
Pada udara
Pada bumi
Pada api

Lupakan





Bogor 0411

Minggu, 24 April 2011

PUISI


BUNGA KAMBOJA


Tegak kokoh pokok mu
Bercabang-cabang reranting
Merambah langit menjulang
Bila kemarau datang
Rintangi matahari
Berbayang senja memerah
Bila musim penghujan tiba
Selimut dedaun teduhi tanah
Bunga-bunga bermekaran
Tiada musim tiada janji
Hanya mentari sebagai tanda
Wangi yang  segera kau tebarkan
Bila satu kelopak mahkotamu
Terselip di kuping perempuan
Tiada kabar selain keelokan
Bila jatuh di kolam
Terombang ambing gelombang
Tiada kata selain keindahan
Bunga kamboja, bunga kamboja
Lalu kenapa kau disebut
Bunga kuburan

BOGOR, 0411

Selasa, 19 April 2011

PUISI


ULAT BULU


Tentu aku tak salah melihat
Itu ulat bulu, bukan alis matamu



Bogor 0411