SELAYANG BAYANG

SELAMAT DATANG

adalah ruang di mana ada kehidupan yang saling menghidupi. Mungkin ada puisi, mungkin ada cerita, mungkin ada renungan atau oleh-oleh kecil atas sebuah perjalanan, mungkin ada imaji, bahkan mungkin sekedar omelan belaka. Suka maupun tak, apabila berkenan, tinggalkan jejak kata.
Apapun, selamat menikmati. Semoga menjadi inspirasi.
Terima kasih telah berkunjung.

Minggu, 11 Januari 2009

PUISI

LUKISAN KECIL

Di ujung bawah tangga ada lukisan kecil
Menempel di dinding
Yang kau tak tahu siapa pelukisnya

Setiap hendak ke atas
Kau memandanginya
Dengan mata tertutup
Karena kau pernah gagal
Bila kelopakmu terbuka

Pemandangan itu begitu dekat
Lebih dekat dari urat nadimu

Pernah suatu kali ibu
Memindahkan lukisan itu ke lorong
Yang berujung ke taman buatanmu

Tapi tetap saja setiap hendak ke atas
Kau berhenti di bawah tangga
Memandang dinding kosong itu
Dengan mata tertutup



Bogor, 0109

Rabu, 07 Januari 2009

PUISI

DAN DAUN.....

Menikmati waktu berhenti kala daun jatuh.
Lepas dari rantingnya, melayang
Terombang-ambing oleh angin matahari
Kanan, kiri, depan, belakang
Menukik sebentar, kembali melayang
Sebelum benar-benar jatuh
Pada permukaan air tenang
Membentuk gelombang
Susul menyusul ke tepian
Dan lalu diam

Waktu kembali berjalan
Menghanyutkan daun jatuh ke tempat yang jauh



Bogor, 0109

Minggu, 04 Januari 2009

PUISI

DARI KATA

Kau harap apa dari kata ; membimbingmu ke surgakah tak, nerakapun tak. Berkelindan dia di sini. Relung hati yang dibimbing oleh darahmu dari otak


Bogor, 0109

PUISI

KATAKAN YA

Katakan Ya
Maka setapak demi setapak
Kan kujejakan kaki
Menari
Kitari bumi,
Terbang melesat pesat
Katakan Ya
Maka kan kulemparkan selendang
Tuk mengajakmu
Menari
Menyelam samudra
Hilang ingatan hilang raga
Katakan Ya,
Maka sublim diriku sublim dirimu
Lenyap tanpa bekas.
Tandas


Bogor 1208

Kamis, 01 Januari 2009

PUISI

SENJA DI LADANG

Kenapa baru sekarang ku kuyakin. Bahwa kau benar-benar tlah pergi. Padahal masih saja kulihat bayangmu. Berdiri di pematang. Ladang-ladang pertempuran. Pada senja berjelaga. Benar katamu : Bharatayudha telah berlalu. Dan langit masih tergores jejak apinya. Maka kau harus pergi mengikuti anak-anakmu. Menemui bapak-bapaknya. Para Dewa. Harusnya kusadar sejak awal. Dalam epos ini, aku, laki-laki dengan kaki yang pincang, bukanlah apa-apa.


Bogor 0109