SELAYANG BAYANG

SELAMAT DATANG

adalah ruang di mana ada kehidupan yang saling menghidupi. Mungkin ada puisi, mungkin ada cerita, mungkin ada renungan atau oleh-oleh kecil atas sebuah perjalanan, mungkin ada imaji, bahkan mungkin sekedar omelan belaka. Suka maupun tak, apabila berkenan, tinggalkan jejak kata.
Apapun, selamat menikmati. Semoga menjadi inspirasi.
Terima kasih telah berkunjung.

Kamis, 14 Agustus 2008

PUISI

De Ja Vu
; Ley

Masih ingatkah kau kota yang tertindih waktu
Matahari merintih di pucuk-pucuk pohon jaranan
Aku telah meninggalkannya


Bogor, 0808

PUISI

PESTA APEM
; Yonathan

Ibuku memasaknya. Setelah matang dibagikan ke tetangga. Dua, tiga di antaranya dilemparan ke atap genting. Lalu burung-burung berdatangan berebut mematukinya.
Untuk arwah keluarga kita, katanya. Burung-burung akan membawanya ke angkasa. Dipersembahkan bagi penguasa alam agar tak mengirim pagebluk, bencana dan kemelaratan.

Para tetanggapun memasaknya. Setelah matang pun ibu dibaginya. Dua, tiga di antaranya dilemparkan ke atap genting. Dan burung-burung berdatangan pula.
Para tetangga punya harapan yang sama dengan ibu. Agar tak ada pagebluk, bencana dan kemelaratan.

Hari itu kami berpesta apem, karena esok puasa kan tiba. Saatnya tirakatan. Agar tak ada pagebluk, bencana dan kemelaratan.


Depok 0307

PUISI

SEKELUMIT ALIS PADA PERAHU BULAN
; perca

Malam turun pada sabit bulan
Mengendap endap

Lebih mirip perahu tak berlayar, katamu
Tak seperti alis dikira orang
Atau lebih mirip potongan semangka

Lalu kita berenang pada kata-kata
Melupakan malam
Melupakan awan hujan yang mulai mengancam

Kaupun tak peduli lagi
Ketika perahu bulan telah pergi
Meninggalkan gurat alur di langit

Karena itu hidup harus terus diedit
Oleh kata-kata
Begitu sabda penyair kita


Depok 1106

PUISI

PULANG KAMPUNG
; Rohman, Rohim

Berjalan cepat menyusuri kampung
Mencari rumah dengan gambar Syekh Abdul Qadir Jaelani
Menunggui remang ruang tamu
Saat matahari siap berpamitan
Bulan, entah di mana

Sayup di kejauhan
Sapa Rohman dan Rohim di ujung gang
“Selamat datang, “kata mereka
“Sebentar kita bermain bersama”

Rumah berdinding putih setengah bata setengah bambu
Pagar cat hijau memanjang sampai ke langit
Tempat kami sering memanjat, terjatuh dan
Tertawa-tawa

Pohon jambu airpun masih ada
Tapi dia tentu sudah sangatlah tua
“Setua guru ngaji kita,” kata Rochim
Kamipun tertawa-tawa

Langgar kayu saatnya memanggil
“Ssst, masih ingat celana pendekmu yang hilang dari balik pintu ?” Tanya Rohman
“Kulihat Jibril memakainya beberapa tahun yang lalu.” Kata Rohim
Kamipun tertawa-tawa

Malam mengguyur cepat bersama kerlip bintang
Ramai suara orang Tadarus memberondong ke langit
Lalu, sepasang sayap mendekap
“Saatnya untuk kembali,”


2006

PUISI

RUMAH KENANGAN

Bapak berdiri di pintu ketika ku datang
Saat itu musim jati meranggas, ku bergegas
“Cepat pulang,” katanya di telepon,
“Sedikit lagi rumah tinggal kenangan”

Pun ku berjalan tak menengok, ketika
Si Mbah berangkat menuju ladang
Tempat ku menyelinap
Di antara pepohonan jagung
Bayang-bayangnya menghilang

Kini rumah pun segera bergegas
Menyusul Bapak, menyusul ladang, menyusul Si Mbah


2006