SELAYANG BAYANG
adalah ruang di mana ada kehidupan yang saling menghidupi. Mungkin ada puisi, mungkin ada cerita, mungkin ada renungan atau oleh-oleh kecil atas sebuah perjalanan, mungkin ada imaji, bahkan mungkin sekedar omelan belaka. Suka maupun tak, apabila berkenan, tinggalkan jejak kata.
Apapun, selamat menikmati. Semoga menjadi inspirasi.
Terima kasih telah berkunjung.
Kamis, 14 Agustus 2008
PUISI
; perca
Malam turun pada sabit bulan
Mengendap endap
Lebih mirip perahu tak berlayar, katamu
Tak seperti alis dikira orang
Atau lebih mirip potongan semangka
Lalu kita berenang pada kata-kata
Melupakan malam
Melupakan awan hujan yang mulai mengancam
Kaupun tak peduli lagi
Ketika perahu bulan telah pergi
Meninggalkan gurat alur di langit
Karena itu hidup harus terus diedit
Oleh kata-kata
Begitu sabda penyair kita
Depok 1106
PUISI
; Rohman, Rohim
Berjalan cepat menyusuri kampung
Mencari rumah dengan gambar Syekh Abdul Qadir Jaelani
Menunggui remang ruang tamu
Saat matahari siap berpamitan
Bulan, entah di mana
Sayup di kejauhan
Sapa Rohman dan Rohim di ujung gang
“Selamat datang, “kata mereka
“Sebentar kita bermain bersama”
Rumah berdinding putih setengah bata setengah bambu
Pagar cat hijau memanjang sampai ke langit
Tempat kami sering memanjat, terjatuh dan
Tertawa-tawa
Pohon jambu airpun masih ada
Tapi dia tentu sudah sangatlah tua
“Setua guru ngaji kita,” kata Rochim
Kamipun tertawa-tawa
Langgar kayu saatnya memanggil
“Ssst, masih ingat celana pendekmu yang hilang dari balik pintu ?” Tanya Rohman
“Kulihat Jibril memakainya beberapa tahun yang lalu.” Kata Rohim
Kamipun tertawa-tawa
Malam mengguyur cepat bersama kerlip bintang
Ramai suara orang Tadarus memberondong ke langit
Lalu, sepasang sayap mendekap
“Saatnya untuk kembali,”
2006
PUISI
Bapak berdiri di pintu ketika ku datang
Saat itu musim jati meranggas, ku bergegas
“Cepat pulang,” katanya di telepon,
“Sedikit lagi rumah tinggal kenangan”
Pun ku berjalan tak menengok, ketika
Si Mbah berangkat menuju ladang
Tempat ku menyelinap
Di antara pepohonan jagung
Bayang-bayangnya menghilang
Kini rumah pun segera bergegas
Menyusul Bapak, menyusul ladang, menyusul Si Mbah
2006
Selasa, 29 Juli 2008
PUISI
SELAMAT PAGI , CAK MAT
Kau rasakan kini kelelahan yang tak seperti dulu saat kamu gembira berolah raga pagi, sore, bak tak ada kelelahan bertubi-tubi. Kau rasakan kini kepenatan yang tak seperti dulu saat kamu giat bekerja di lapangan -kau menyebut begitu- bak tak ada kepenatan tak putus. Kini otot, urat, darah serasa membeku tak selancar dulu saat kau tak henti mengukur jalan, menggiring awan, menggauli matahari, mencumbu malam.
Kini kau menukik pada perasaan dan otak yang terperas tak seperti dulu kala kau berjalan dengan tegap percara diri, penuh dengan perhitungan untung takut merugi materi. Kini kau memendam malam pada sunyi mengukur diri, mengukur panjang jalan yang telah kau lalui lalu baru membuat sebuah keputusan yang kau sendiri sebenarnya gamang akan remang yang menghadang
GEGURITAN
KERE MUNGGAH BALE.
Kere munggah bale. Tlacak asu, tlacak asu. Diamput. Sega golong glundung pringis
Kere munggah bale. Ra weruh dur. Diamput. Bubrah rubuh-rubuh gedhang ombyokan
Kere munggah bale. Bale rusak negara bubrah. Diamput. Sing waras ngalah.
Sing waras ngalah. Sing waras kalah.
Depok, 0704