SELAYANG BAYANG
adalah ruang di mana ada kehidupan yang saling menghidupi. Mungkin ada puisi, mungkin ada cerita, mungkin ada renungan atau oleh-oleh kecil atas sebuah perjalanan, mungkin ada imaji, bahkan mungkin sekedar omelan belaka. Suka maupun tak, apabila berkenan, tinggalkan jejak kata.
Apapun, selamat menikmati. Semoga menjadi inspirasi.
Terima kasih telah berkunjung.
Kamis, 14 Agustus 2008
PUISI
Bapak berdiri di pintu ketika ku datang
Saat itu musim jati meranggas, ku bergegas
“Cepat pulang,” katanya di telepon,
“Sedikit lagi rumah tinggal kenangan”
Pun ku berjalan tak menengok, ketika
Si Mbah berangkat menuju ladang
Tempat ku menyelinap
Di antara pepohonan jagung
Bayang-bayangnya menghilang
Kini rumah pun segera bergegas
Menyusul Bapak, menyusul ladang, menyusul Si Mbah
2006
Selasa, 29 Juli 2008
PUISI
SELAMAT PAGI , CAK MAT
Kau rasakan kini kelelahan yang tak seperti dulu saat kamu gembira berolah raga pagi, sore, bak tak ada kelelahan bertubi-tubi. Kau rasakan kini kepenatan yang tak seperti dulu saat kamu giat bekerja di lapangan -kau menyebut begitu- bak tak ada kepenatan tak putus. Kini otot, urat, darah serasa membeku tak selancar dulu saat kau tak henti mengukur jalan, menggiring awan, menggauli matahari, mencumbu malam.
Kini kau menukik pada perasaan dan otak yang terperas tak seperti dulu kala kau berjalan dengan tegap percara diri, penuh dengan perhitungan untung takut merugi materi. Kini kau memendam malam pada sunyi mengukur diri, mengukur panjang jalan yang telah kau lalui lalu baru membuat sebuah keputusan yang kau sendiri sebenarnya gamang akan remang yang menghadang
GEGURITAN
KERE MUNGGAH BALE.
Kere munggah bale. Tlacak asu, tlacak asu. Diamput. Sega golong glundung pringis
Kere munggah bale. Ra weruh dur. Diamput. Bubrah rubuh-rubuh gedhang ombyokan
Kere munggah bale. Bale rusak negara bubrah. Diamput. Sing waras ngalah.
Sing waras ngalah. Sing waras kalah.
Depok, 0704
Kamis, 06 Maret 2008
CERPEN
Kopor kulit coklat itu sudah hampir setengah hari ada di
Sekali-sekali keningnya berkerut. Menambah lipatan-lipatan yang telah berbaris di
Orang-orang di sekitarnya jadi menyelidik. Tapi tak juga mereka mencoba bertanya atau saling bertanya. Mereka cuma berpikir lalu menduga.Siapakah orang tua itu. Dan yang paling penting, apakah isi kopor kulit coklat di bawah bangku itu.
Beberapa menduga, laki-laki tua itu adalah penumpang biasa. Yang sedang menunggu keberangkatan kereta entah kemana. Beberapa pula menduga, laki-laki tua itu orang gila. Jaman seperti ini, mana ada orang bergaya bak Meneer Belanda. Beberapa malah bercanda dengan pikirannya, jangan-jangan dia teroris. Dan isi kopor kulit coklat itu adalah BOM.
Depok, 0503
Selasa, 26 Februari 2008
PUISI
HARMONIKA METALIK
Dylan merayuku dengan harmonika metalik
Dylan membuaiku dengan kata berbisa
Memainkan nada di atas awan
Meramu kata dibelai rerumputan
Harmonika metalik kini ku punya
Kutiup kisi-kisinya di atas mega-mega
Gelembungkan balon-balon kata
Kupecah sunyi jadi kawan bermakna
KUPELUK BENCANA
Akhirnya aku mengerti pula bahasamu
Wahai tonggak kayu di bukit sendu
Kau tunjukkan abu hitam
Engkau diam
Hutan jelaga
Tapi sayang
Lagumu sedih hingga meradang
Tak lagi kami kau beri peluang
Anak manusia berdendang
Kuterima kiriman lumpurmu
Sampai paru-paru
Bernafaspun tak mau
Sampaikan salamku pada hujan
Sebentar lagi kita akan berpelukan
Depok, Feb 03